Minggu, 03 Juni 2012

setangkai cinta dalam sebuket kesedihan

Karena cinta tdak hrus memiliki
Pagi ini tepat 7 hari saya beranjak dari kehidupan seseorang, seseorang yang entah kusebut apa, dia bukan kekasihku, teman? Bukan juga, sahabat? Tdak bisa juga disebut sperti itu. Yang jelas, klimat yg sempat terhembus oleh  suaranya adalah aku mimpi buruknya. Setidaknya, kurang lebih seperti itulah yg aku tau. Sampai akhirnya aku memilih pergi, bukan krena aku muak, atau sakit hati, tpi krena memang sdah seharusnya saya pergi dari hdupnya :D.

Tepatnya beberapa bulan yg lalu, aku bertemu dengan seorang laki-laki yg tergeletak lemah dipinggir jalan dlam perjalananku pulang dri kampus, dan laki-laki itu adalah Dia, Dia yg akhirnya kukenal dengan nama Arya kartanagara. Nama yg bgitu berkarisma, tpi sangat tdak sesuai dengan kepribadian wujudnya. Aku memang tdak sebaik tokoh utama sinetron-sinetron indonesia pada umumnya, tpi aku tdak cukup kejam untuk mnbiarkannya tetap ditempat itu.

Dengan bantuan beberapa orang yg msih punya hati aku membawanya kerumah sakit terdekat, kujaga dan kurawat dia seakan-akan dia adalah orang pling berharga dlam hdupku, sampai-sampai mbak-mba susternya mengira klau aku kekasihnya. Bahkan seorang Dokter mengiraku istrinya, dengan dandanan seperti ini apakah aku terlihat seperti ibu-ibu muda? Aku adalah Mahasiswa ekonomi dengan kaos oblong, spatu cats, dan jeans sebagai kostum kebesaran. Saya rasa sngat jauh dri potret seorang ibu muda yg sedang menunggui suaminya.

    “siapa kamu? Dmna saya?” katanya dengan tatapan yg bgitu angkuh
Itu, klimat pertama yg kudengar dri mulutnya saat dia mulai tersadar, klimat yg sempat mnbuatku tertawa teringat ekspresi wajah Raditya Dika sipenulis konyol itu :D.
    “aku Naira, Raningga Naira tepatnya” jwabku memperkenalkan diri
    “aku, tdak butuh nama kamu yg aneh itu, yg kutanyakan knapa aku bisa dsini dan bersamamu?” tanyanya lagi deengan wajah bingung.
    “tadi, tanpa sengaja aku melihatmu pingsan dijalan, jdi kupikir kubawa saja kamu kesini” jwabku tanpa mnjelaskn panjang kali lebar
    “ mana handphone ku? Dompetku? Lalu mobilku?” tanyanya sperti dosen akuntansi ku mengintrogasi jika terlambat dikuliahnya.
    “entahlah, aku hanya menemukanmu, tanpa barang2 yg kau sebut tdi” jwabku jujur
    “kamu jgan pura-pura plos, kamu kan yg ambil, trus kamu membawaku kesini agar tdak dicurigai” tuduhnya tajam
Bukan ucapan terimaksih yg kudengar drinya, justru tuduhan yg kudapat, tpi aku tdak brpikir bahwa dia adalah kategori orang yg tdak tau diri, yh mungkin sja sekarang dia sedang labil, dan msih stengah sadar.
    “terserah apa katamu, tpi itulah kenyataannya, lalu apa mau mu skrang? Memenjarakanku tanpa bukti stelah aku menolongmu?” tanyaku balik, dengan nada menantang
    “mana handphone mu? Telponkan ibuku sekarang !” perintahnya padaku
kulakukan perintah itu bukan krena aku takut, tpi karna aku ibah, disebutnya digit demi digit no.handphone seseorang yg disebut ibunya, kuberikan padanya dan dia pun mulai bercerita saat sudah ada jawaaban diujung sana, dia meminta ibunya itu menemuinya.
Dan lagi-lagi dia menegmbalikan handphoneku tanpa disertai ucapan terimaksih. Pkirku saat itu mungkin sja orang tuanya terlalu sibuk sehiingga tdak sempat mengajarkannya bgaimana cara berterimaksih.
Aku mematung diruangan itu bersamanya, aku sengaja menyibukkan diri membaca buku “manusia setengah salmonnya” Raditya dika  ketimbang brcerita dengannya, dia pun sperti itu, tdak sedikitpun dia bertanya sesuatu hal padaku, tdak juga ia memintaku prgi, jdi aku msih menetap dsitu, bersama keheningan itu sampai seorang wanita dan laki-laki paruh baya muncul dri balik pintu, sepasang bapak.ibu dengan dandanan parlente yg kudengar dia panggil “Mama dan Papa”.
Tidak seperti bayanganku, Ibu dan Ayahnya sangat ramah, secara bergantian mreka menyalami ku dan berterimaksih sampai aku bosan mendengarnya. Ibu itu terlihat jelas sangat menyayangi anak menyebalkan ini. Dan ayahnya yang sibuk merangkai klimat.klimat wejangan buat anak nakalnya yg      ternyata habis kecurian.

Jam menunjukkan pukul 5 sore, itu artinya aku harus bergegas pulang, kubereskan smua buku-buku ku dan pamit pulang, tdak sdikitpun aku menoleh pada mahluk itu, seperti ada sesuatu yg ingin disampaikan ibunya padaku, tpi aku terlalu terburu-buru untuk mndengarnya aku segera pergi, dan entah drimana pikiran konyol itu datang, dengan santainya aku berjanji akan kembali lagi.

Berawal dari hari itu, entah keberanian dri mana saya kembali dtang menjenguk Mahluk angkuh itu, ikut mengantarnya pulang saat ia sembuh, dan semenjak hari itu saya resmi msuk dlam kehidupannya meski ia  mungkin tdak mengindahkannya, tapi hubunganku dan kedua orang tuanya sangat baik. Aku mulai menyisahkan waktuku untuknya.

Aku adalah manusia dengan segudang aktivitas, selain sibuk kuliah aku juga bkerja sbagai kreatif disalah satu Majalah ibu kota, dan salah satu mentor disalah satu pusat bimbingan belajar terkemuka, dlu aku bgitu sulit mngatur waktuku, dan seakan dunia ini hanya milik saya, tdak ada hangout breng temen-temen atau apalah namanya, tpi semenjak brtemu dia, aku seakan punya banyak skali waktu untuk mngurusi hdupnya, mngomentari stiap aktivitasnya, dan kelakuannya yg kuanggap tdakk lulus sensor dimatakuu.

Singkat cerita, aku memutuskan beranjak dri hdupnya stelah kurang lebih 2 bulan menggerayangi hari-harinya smpai ia mnyebutku Manusia aneh. Seminggu yg lalu, Aku pergi tanpa pamit padanya, mulai hari itu saya tdak pernah lagi menemuinya atau kluarganya, kuhapus no.handphonenya dan smua kenangan tentang dia, yg kurasakan sekrang adalah kegagalan, gagal mnbuatnya lebih baik, dan hanya kata maaf yg bisa kuhaturkan untuk ibu dan ayahnya yg sdah mempercayakan tugas yg kulaksanakan dengan gagal total itu (setidaknya ini versiku)

Tdk ada lagi rutinitas miskolin dia tiap pagi Cuma buat bangunin dia, sms’in dia tiap saat Cuma buat ngingetin mata kuliahnya, sampai-sampai saya lebih hafal jadwal mata kuliahnya dibanding mata kuliahku sendiri, tdak lagi meluangkan waktu untuk mendatanginya stiap sore hanya untuk mengingatkan tugas kuliahnya meski nyaris selalu saya ujung-ujungnya yg ngerjain, 2 bulan saya benar-benar sperti baby sitter yg disewa orang tuanya yg hampir tdak pernah saya temui drumah krena sibuk.

Sampai akhirnya hari itu tiba. Sore itu, tepat digerbang kampus kulihat seorang laki-laki berbadan tegap,gagah,berkemeja abu-abu dengan lengan dilipat sesiku lengkap dengan jeans hitam maskulin, kerenlah pkoknya. Dan itu adalah Mahluk angkuh itu, dia yg kutinggal sekitar seminggu yg lalu. Dengan senyum manis dia menyapaku, aku sempat tdak percaya klo itu dia, tpi lesung pipi yg smkin mnbuatnya mempesona itu meyakinkanku bhwa itu memang dia.
“hai Naii, apa kbar?” sapanya manis
Itu untuk pertama kalinya aku mendengar dia menyebut namaku,kupikir selama ini dia lupa namaku siapa sehingga lebih senang memanggilku Mahluk aneh.
    “baik” jwabku datarr, seraya berlalu dri hadapannya
    “Nai,, tunggu bentar Naii,aku mau ngomong” katanya mnarik tanganku yg berlalu disampingnya
    “bisakah.tdak menyentuhku?” ucapku kasar, sambil menepis tangannya
    “maaf Naii,maaf, aku kesinii mau minta maaf sama kamu, jujur aku ngaku salah” katanya dengan pandangan bgitu arti,membuatku memalingkan mata
    “maaf? Buatt apa?,kamu gk salah apa-apa, dan klo pun memang ada salah,aku sdah melupakannya, sperti aku lupa sudah mngenalmu”
    “Naii, aku tau kamu marah sama aku, aku trima itu, aku ksini buat baikin hubungan kita”
    “hubungan kita?memang kita punya hubungan apa?bukannya kamu yg minta aku pergi,knapa stelah aku pergi kamu yg dtang, jgan bilang kamu lupa itu.”
    “ia Naii, krna itu aku minta maaf,jujur aku nyesel ngomong kyak gitu, memang 2-3 hari stelah kamu menghilang, aku merasa bebas, tpi lama kelmaan aku sadar klo aku sbenarnya khilngan, ia aku kehilangan perhatian kamu”
    “perhatian katamu? Jgan besar kpala,aku tdak pernah prhatian pdamu,aku hanya prihatin, prihatin sama hdup kamu yg amburadul” tantangku sdikit menyangkal
    “okelah, tersrah apa katamu, aku memang amburadul, tpi itu dulu, sbelum kamu hadir dan mngubah smuanya, aku skrang lebih baik, dan Mama.Papa menyadari itu, krna itu mreka memintaku untuk mencarimu”
    “jdi kamu ksini krna diminta Om dan Tante?’” tanyaku sdikit kecewa
Yah, tdk bisa kumunafikkan bahwa aku mulai myukai Mahluk angkuh ini.
    “tdak, aku ksini krna inginku sndiri hanya didukung oleh mreka, bukannya kamu sndiri yg bilang, bgaimanapun kita ingin merubah seseorang tdak akan berhasil jika itu tdak dri dirinya sendiri, jdi biarpun Mama meminta nyari kamu klo aku gak mau, aku juga gk bakalan ksini, tpi ini krna aku mau”
Aku hmpir tdak percaya klimat itu kluar dri mulut Mahluk ini, ternyata slama ini ocehanku tdak semuanya gagal.
    “lalu, apa mau mu skrang? Kumaafkn?baiklah.aku maafkan.lalu,tunggu apa lagi?kamu boleh pergi” kataku sedikit angkuh
    “Naii, bukan itu maksudku, aku mau kita kyak dlu lagii”
    “kayak dlu?memang dlu kita kyk apaa?kau bilang aku mahluk aneh, kurang kerjaan, tdaak tau dirii,itu mksudmuu?
    “bukann Naii,aku mau perhatian kmu lagi, eh,mksudku prihatinmu, ato apalah caramu mnyebutnya”
    “gk bisaa, tlong biarkan aku pergi klo kamu msih mau mndengar suaraku” kataku sedikit mengancam, dan berlalu tanpa menolehnya lagi.
Dia benar-benar membiarkanku berlalu, tdak ada panggilan suaranya lagi, atau usaha untuk mngejarku, pkirku memang hanya sebatas itu usahanya. Tapi ternyata aku sdikit salah, dia tdak segampang itu untuk ptus asa. Mulai hari itu dia rajin menemuiku, sekedar bertanya kabar, menungguku dengan setia digerbang kampus, dan kelakuannya itu memakasaku untuk brpikir keras merangkai kata demi kata yg hrus kubuat mnjadi bntuk penolakan lengkap dengan ekspresi keangkuhan sperti yg dlu dilakukannya padaku. Aku seakan seperti Tuhan yg sedang mnghukumnya dengan karma.

Hari brganti minggu, minggu brganti bulan, sikapku tdak brubah, Meski bgitu tak sedikitpun dia jerah krena sikpku, persis sperti aku dlu, bedanya, dlu aku hanya bisa brtahan hingga dua bulan, brbeda dengannya, ini sdah bulan ke3 dia setia meminta perhatianku lgi, sampai ketika aku luluh juga, mlam itu adalah kali prtama saya mngiyakan ajakannya, dia mnjemputku dan membawaku kesebuah tempat mkan, tdak ada kecanggungan darinya dia slalu brusaha untuk tetap easy going sperti aku dlu.
    “mkasihh Naii, atas waktunya” katanya memulai pembicaraan
    “ia” jwabku singkat
“Naii, apa yg hrus aku lkukan untuk menghangatkn pmbicaraan ini, kmu tetap    sja dengan sikap dinginn mu, sperti itukah dlu sikapku pdammuu?” tanyanya lagi
Sepertinya dia mulai mengiraku blas dendam akan sikapnya dlu, sbenarnya memang tdak salah, tpi tjuan utamaku brsikap sperti itu hanya krna tdak ingin cinta itu smakin mnjadi-jadi padanya.
    “apa mksudmu?” tanyaku, menyangkall
    “aku tau dlu aku sangat jhat padamu, aku sadar, krena itu aku sangat mnyesali itu, aku mau kita punya hubungan yg baik Naii, spertti hubungan baikmu dngan temann kerjamu itu”
    “siapa?” tanyaku penasarann
    “laki-laki berkacamata yg tdak lebih tampan dri ku itu” katanya seraya tersenyum canda, aku tau dia mncoba mencairkan suasana dengan candaanx itu
    “Rio mksudmu?, dia teman baikkku, drimana kamu tau keakraban kami?, apa yg sbenarnya slama ini kmu lakukan?”
    “aku? Mngikutimuu, sperti yg kamu lkukan dlu, meski itu mnbuatku malu, iah, aku malu sama kamu Nai, kamu prempuan dan kamu bkerja skeras itu, kerja diMajalah, jdi tentor, kuliah,apa kamu tdak lelah?” tanyanya
    “lelah?keinginan untuk tetap kuliah melarangku untk lelah, klo tdak sperti itu aku tdak bsa kuliah, orang tuaku tdak cukup kaya untuk mnbiayai kuliahku, dan skolah kedua adikku” jelasku terus terang, seraya menatap wajahnya tajam
    “lalu, saat kamu banyak mluangkan waktumu untuk mngurusiku dlu?bgaimana dengan pngerjaanmu?, ini benar-benar mnbuatku malu Naii, sedangkan aku yg laki-laki tak sepeserpun aku bisa mnghasilkan uang sndiri, dengan usia 20 thun bgini”
    “hmm,itu bukan salahmu, slah orang tua mu, atau salah siapapun, ini krena keadaan, seandainya aku spertimu aku juga tdak akn cape’2 kerja, kn sdah terpenuhi,lagipula juga kamu msih kuliah, yh krena aku saja yg tdak sberuntung kamu, keadaaan yg mnbuatku sperti ini, tpi aku tdak sehebat, dan setegar yg kamu pkirlah” jelasku pnjang lebar,seraya tersenyum brusaha tdak mnbuatnya sepencundang pkirannya
Dia mnatapku tajam, sampai aku harus mngatasinya dengan palingan.
    “Knapa menatapku sperti itu?”
    “kamu sadar tdak, slama ini, ini untuk kedua kalinya aku melihat senyummu, senyum yg tdi Naii, senyum yg sama saat kamu brhasil mnbuatku mngerjakan tugas kuliahku sndiri dlu” jwabnya
Aku sontak terdiam mndengar klimat itu, tdak trpikirkan olehku dia mengingat masa itu, masa yg kupikir masa pling mnyebalkan dlam hdupnya.
    “Kamu hebat Naii, aku kagum sama kamu” sambungnya lagi
    “tdak, kamu lebih hebat. Kamu yg bisa mngkui kesalahan mu itu sdah sangat hebat mnurutku, dan saya rasa sikapmu ntuk minta maaf slama ini cukup mnbuktikan klo kamu lak-laki” kataku lagi disertai senyuman
Iah, aku luluh, bukan krena ketampanannya tpi krena kesadarannya, itu yg aku inginkan drinya slama ini.
Mulai mlam itu, hubungan kami mnbaik, sangat baik mlah, dan singkat cerita, sekarang aku pacarnya. .
Kami snagat bhagia, entah knapa aku yg biasa-biasa sja merasa sangat bruntung memiliknya, dia yg bgitu luar biasa, dia bisa mnerima kekuranganku diantara sekian banyak kelebihannya,. Satu-satunya konsolidasi buatku adalah aku orang yg mnbuat kepribadiannya lebih baik. Setelah itu aku hanya disuguhi dengan kekayaannya, ketampanannya dan status sosial kluarganya.

Sampai suatu ketika, hubungan kami teruji, Rio teman kerjaku, laki-laki yg sempat dia cemburuinya jatuh sakit, dia mnderita penyakit parah yg hanya donor hatilah yg mampu mnbuatnya brtahan hdup. Dan entah keistimewaan apa dri diriku yg sederhana ini yg mnbuatku mnjadi orang yg sering dia igaukan saat trbaring drumah skit. Setidaknya itu yg dcritakan ibunya padaku saat dtang memintaku untuk mnjenguk anaknya. Krena dia teman yg baik, aku mengiyakan permintaan ibunya, aku dtang bersama Arya.
    “Rio, bgaimana keadaanmu” kataku seraya duduuk disampingnya
    “Nairaa, kmu dtang?” aku rindu sama kamu’” katanya seraya memegang tanganku erat
Aku menoleh pada Arya yg brdiri diblakangku, aku mnberikan isyarat meminta pngertiannya
    “iah Yo, kamu apa kbar”
    “baik, knapa kamu bru datang?” tanyanya
    “maaf, aku gk tau klo kamu sakit, soalnya aku jrang msuk kantor krna sibuk kuliah” jwabku
Tak sedikitpun dia menghiraukan kehadiran Arya, dia seakan tdak sadr jika Arya kini brdiri disampingku. Ibunya kemudian memintaku mnyuapinya, katanya dia blum minum obat krna blum mkan. Aku mentap Arya penuh Artii, kuberikan isyarat untuk mngijinkanku mlakukkan pinta ibu Rio.
aku myuapi Rio tepat didepan Arya,suatu hal yg tdak prnh kulakukan padanya. Kemesraan demi kemesraan ku dengan Rio disaksikannya, aku tdak bisa brbuat apa-apa, aku tdak mungkin menolak prmintaan orang yg sedang tdak sehat ini. Hari sudah gelap Rio tertidur, aku dan Arya pun permisi pulang, dengn wajah sdikit memelas ibunya memintaku dtang lagi bsognya, dan tanpa prsetujuan Arya aku mnyanggupinya.
    “Dia Cuma butuh donor hati kn, bukan donor mata, apa dia juga Buta, apa dia tdak sadar klo dsitu ada aku” tanyanya dengan nada jengkel saat kami sdah berada dlam mobil prjalanan pulang
    “spertinya hatinya memang sdah sangt rusak, sampai-sampai dia tdak bisa mngerti peasaanku, aku tdak suka adegan tadi” sambugnya lagi dengan tetap menatap jalan
    “Dia sakit Ya, mklumi sajalah” jwabku santai
    “dia mnyukaimu Nai, aku tau itu sejak dlu, aku laki-laki, jdi aku tau sikapnya”
    “aku sadar, tpi kn aku tdak mnyukainya” jwwabku
    “tpi aku tdak suka sikapnya yg tdi, dia sperti memamfaatkan keadannya”
    “Arya, aku tdak suka kamu bgitu, aku Cuma mau pngertian kamu, berbaik hati padanya itu tdak akan mnbuat kita rugi, percaya padaku” ucapku meyakinkannya
Masalah itu sempat mnyita sebagian pembicaraan kita saat brdua, sampai akhirnya kami mnemukan titik terang meski dia sdikit trlihat tdak bgitu iklhas
    “yh sudah, aku ijinkan bukan krena aku baik, tpi krena aku mncintaimu, ini maumu, aku akan mngikutinya” katanya mlam itu padaku.
Setelah itu secra rutin dia mngantarku mnemui Rio, meski dia hanya mngantrku hingga depan kmarnya, dia tdak pernah mau ikut msuk kedalam, katanya dia tdak cukup kuat untuk melihat adegan-adegan kemesraanku mngurusi Rio, seakan-akan Rio adalah kekasihku yg sedang skit. Dan aku mngerti ituu.
Seperti itu nyaris stiap hari dan ini sdah minggu kdua aku setia mnemui Rio, hari inii dia tdak mngantarku krena sibuk katanya, ini sdah dua hari aku tdak bertemu dengannya,terakhir mndengar suaranya saat dia mnelponku tdi pagi memintaku dtang kerumahnya stelah mnjenguk Rio, dan tentu sja aku mnyanggupinya.

Hari sudah sore, sperti biasa Rio sudah tertdur, aku pamit pulang pada Ibunya, segera sja aku brgegas krumah Arya, dengan wajah sumringah aku membawa sekotak brownis kesukaanya dengn cepat aku smpai didepan rumahnya. Tapi, seketika aku terdiam saat melihat bndera kuning tertancap tajam dipagarnya, aku msuk berusaha mnbuat kakiku tetap brjalan baik, tpi kue yg kubawa terjatuh mnandakan kerapuhanku saat aku melihat Arya tertidur kaku dilantai, ada Ibunya yg sedang tersedu pas disampingnya, jantungku seakan brhenti berdetak, darahku sperti brhenti mngalir saat ketemui kenyataan itu. Jasad laki-laki yg sedang terbujur kaku di lantai itu adalah dia, laki-laki yg kucintai yg trakhir kudengar suaranya tdi pagi,inikah mksudnya memintaku dtang kerumahnya, untuk menyaksikan kpergiannya.

Ibunya brdiiri mendatangiku, menuntunku duduk dsmping jasad laki-laki yg kmrin sore mncium keningku itu, tpi, aku seolah-olah adalah wanita pling tegar saat itu, tak ada air mata membasahi wajahku, tk ada suara kluar dri mulutku, aku tertegun, aku ingin tdak percaya akn tetapi kenyataan ini merusak smua harapku.
Ibunya memberiku secarik kertas bergores tinta, dan sangat kukenali itu adalah tulisaannya. Aku brusaha mnbaca surat itu dengan tangan gemetar.

 Naira, Kekasihku..
Mungkin saat kamu mnbca surat ini aku sdang terkapar lmah atau bhkan sdah tdak ada.
Maaf, atas sgala keslahanku slama ini, maaf krna aku telah tdak jujur padamu, maaf krena aku tdak mampu mnberitahumu tentang keadaanku slama ini, ini smua krena aku tkut krhilanganmu., sikapku yg tdak baik sebelum kamu hadir dlam hdupku itu sbenarnya adalah bentuk kekesalanku pada Tuhan krena telah mnghukumku sberat ini, iah, aku mnderita penyakit diskleksia akut Naii, dan itu tdak bisa dismbuhkan, tpi yg hrus kamu tau, sempat memilkimu adalah kebahagiaan terbaik dlam hdupkuu. Jgan mnenngis, krena aku akn sangat sedih.  Maaf jika aku harus menitipmu pada Rio, menikahlah dengannya, dia sangat mnyukaimu, meski tdak sebesar rasa cintaku, tpi kamu jgan khawatir sudah kutitipkan juga hatiku padanya, hati yg kamu adalah ratunya, kutitipkn padanya ykinlah dia tdak akan mnghianatimu, sperti akuu yg tdak pernah bpkir untuk mnghianatimu.
Arya

Setidaknya seperti itulah isi surat itu, dan seketika rasa sesak menyeruak didadaku, aku tdak bisa lagi menahan badai skit ini, air mataku bercucuran mnbasahi wajahku. Aku kehilangan, mungkin dia mmang bukan nyawaku, tpi dia semangatku, kehilangannya seperti sja kehilangan semangatkuu.
Dia bgitu hebat, dia tdak ingin kpergiannya sia-sia, dengan besar hati dia mndonorkan hatinya pada Rio, orang yg sempat mnbuatnya skit hati krena mnyukaiku juga.



Siang itu dipusaranya, didepan nisan brtuliskan

Arya Kartanagara
lahir
12 Mei 1991
Wafat
23 Januari 2012
aku brjanji akan slalu mnjaganya dihatiku. Dia tetap raja dihatiku, tak seorang pun akn bisa mngalahkan cintaku padanya, dan smoga Rio mngerti itu, sperti dia yg mngerti saat aku dengan rutin mnjeguk dan merawat Rio Saat sakit, tentunya sebelum Rio mnerima donor hati darinya.



3 komentar:

  1. sedih, mengharukan, inspiratif, dan memotivasi pembaca untuk menjadi seperti seorang naira.. :) bagus jum..

    bodohnya, saya baru tau kalo penyakit disleksia mematikan..

    BalasHapus