Ini cerita tentang sisi lain tentang kehidupan, kehidupan yg mungkin sja tdak smua orang bisa mengerti. Kehidupan yg saya sendiri terkadang susah mnjelaskan pada pmikiran orang lain slain pmikiran saya sndiri.
Cerita ini tentang sahabat saya, Askara Anindya, nama yg anggun bukan? Mungkin yg pertama kali terbersit dipikran klian dia pasti akrab disapa Kara, Anin, atau Nindya. Jika sperti itu, pemikira klian salah. Dia dri kecil akrab disapa Aska.
Gadis cantik berkulit sawo matang, perawakan tinggi, rambut panjang saingan sama bintang iklan Shampo yg sering wara-wiri diTv ini memang slalu tampak feminim, layaknya prempuan pada umumnya. Tpi entahlah saya juga gak tau kenapa dia benci disapa dengan sapaan brkonotasi perempuan. Dia juga tdak suka brteman dengan prempuan, satu-satunya teman prempuannya sejak 20 tahun yg lalu hanya saya. Dania Arianti!
Ketidak sukaannya dengan prempuan juga brdampak pada saya. Sebenarnya dri kecil saya akrab disapa Nia, tpi buat dia, saya adalah sahabatnya yg brnama Dani. Sejak brkenalan dengannya 20 thun lalu dia memang menyapaqu dengan nama itu. Krena itu juga teman-teman dan kluargku tdak pernah bingung jika dia memanggilku dengan nama Danii.
Tapi, jika ditanya knapa gk suka temenan sama cwek dia Cuma jwab kayak gini “brarti gua aman donk, peluang gua buat lesbi tertutp rapat” yah. Jwaban yg konyol, tpi tersirat kediplomatisan dri jwaban selengean itu.
Dan hal lain yg tdakk bisa kita tebak dri dia adalah sifatnya. Mungkin sja hanya saya yg sdikit bisa mngerti sifat anehnya itu. Pada dasarnya dia pribadi yg sangat mnyenangkan, easy going, jiwa humoris tinggi, gokil deh pkoknya. Tpi, klo lagi BadMood, dialah pemilik emosi pling tinggi yg pernah saya kenal. Entah kenapa, tpi saya sdari hal yg pling tdak bisa ia redam adalah suatu sifat bernama “emosi”
Dan sore itu mungkin mnjdi puncak sgala penat kami, suatu event yg hrus mnbuat kami sdikit mngenyampingkn ego demi kebersamaan mnjadi saksi smuanya.
Dia marah besar, marah besar krena sdikit kekecewaan. Sejatinya, menunggu adalah rutinitas pling dibencinya, memang sangat dibencinya, dan hal itulah yg mnbuat sore ini sdikit agak angker. Dia memang terkenal sangat loyalitas waktu jika berbicara tentang kebersamaan, tdak pernah ada kata “TIDAK atau TUNGGU” darinya jika sdah brcerita tentang hal ini. Bahkan dakjarang dia jadi sarana penghubung kebersamaan itu, krna dia fleksibel jdi dia memang sdiikit memilki andil dlam smua kgiatan kami.
Dan sore itu demi sebuah “kebersamaan” dia mrelakan mnjadi cucu satu-satunya yg tdak ikut mnunggui neneknya yg sdang brjuang mnyambung hdup diRumah sakit, dia merelakan waktunya terbuang hanya untuk sbuah senyum kebersamaan, yah. Narasinya yg seharusnya deadline diabaikannya demi sbuah kbersamaan.
Akan tetapi, betapa kecewanya dia saat seseorang bgitu susah menepati janji, bgitu susah untuk mluangkan waktunya beberapa menit untuk sbuah senyuman sbgai gambaran satu smester ini. Berusaha menampik amarahnya, meredam egonya, berharap smuanya tdak akan berakhir dengan kata “BERANTAKAN” tapi dia tdak bisa, kejenuhan menanti cukup lama dengan mngabaikan banyak hal tdak mampu dibendung, kecewa itupun pecah dengan kemarahan.
Meski bgitu ia tetap brusaha tdak keterlaluan dan merusak smuanya, ia tetap brusaha mngatur semuanya, setelah ia sejenak menghindar berusaha melawan emosinya agar hari ini tdak berakhir dengan kebencian.
Butuh proses yg cukup lama, akhirnya suatu sesi yg mempertontonkan senyum bhagia itupun terlakasana, suasana kembali kondusif dengan senyum beberapa dri mreka, tpi tdak untuk dia, dia memilih mundur dri barisan senyum itu dan hanya menatap dri kejauhan.
Yh mungkin sja kami bisa mredam BadMood kami stelah pnantian panjang itu dan menggantinya dengan senyuman, meski jujur memang sdikit terpaksa. Tapi, dia?? Tdak sdikitpun segaris senyum terlukis diwajahnya, tatapannya kosong, dan tdak banyak yg menyadari dia mnyaksikan senyum kami dengan mata berkaca-kaca.
Dia menatap kami dngan ekspresi datar, tdak sdikitpun kami mnemukan senyum, seakan sore itu rembulan akan tenggelam diwajahnya. Mungkin tdak sdikit diantara kami yg tdak bisa mngerti dia sdikit murka dengan arogansinya sore itu, bisa jdi ada yg mngira belagunya dia selangit, tpi aku, krena aku shabatnya aku mngerti betapa kecewanya dia saat itu.
Kecewa krena mnyadari ternyata tdak smua orang punya loyalitas waktu sepertinya. Dan aku tau, untuk melebur bersama kami saat itu dibuthkan senyuman, tpi tentang hal ini tdak bisa dia paksakan, mungkin sja kami bisa melakukannya krena berbeda dengan dia, dia memang memiliki emosi yg sangat tinggi jdi BadMoodnya pun tdak mampu dia redam dan senyum itupun sirna, seakan tenggelam bersama mentari dikala senja.
Cerita ini tentang sahabat saya, Askara Anindya, nama yg anggun bukan? Mungkin yg pertama kali terbersit dipikran klian dia pasti akrab disapa Kara, Anin, atau Nindya. Jika sperti itu, pemikira klian salah. Dia dri kecil akrab disapa Aska.
Gadis cantik berkulit sawo matang, perawakan tinggi, rambut panjang saingan sama bintang iklan Shampo yg sering wara-wiri diTv ini memang slalu tampak feminim, layaknya prempuan pada umumnya. Tpi entahlah saya juga gak tau kenapa dia benci disapa dengan sapaan brkonotasi perempuan. Dia juga tdak suka brteman dengan prempuan, satu-satunya teman prempuannya sejak 20 tahun yg lalu hanya saya. Dania Arianti!
Ketidak sukaannya dengan prempuan juga brdampak pada saya. Sebenarnya dri kecil saya akrab disapa Nia, tpi buat dia, saya adalah sahabatnya yg brnama Dani. Sejak brkenalan dengannya 20 thun lalu dia memang menyapaqu dengan nama itu. Krena itu juga teman-teman dan kluargku tdak pernah bingung jika dia memanggilku dengan nama Danii.
Tapi, jika ditanya knapa gk suka temenan sama cwek dia Cuma jwab kayak gini “brarti gua aman donk, peluang gua buat lesbi tertutp rapat” yah. Jwaban yg konyol, tpi tersirat kediplomatisan dri jwaban selengean itu.
Dan hal lain yg tdakk bisa kita tebak dri dia adalah sifatnya. Mungkin sja hanya saya yg sdikit bisa mngerti sifat anehnya itu. Pada dasarnya dia pribadi yg sangat mnyenangkan, easy going, jiwa humoris tinggi, gokil deh pkoknya. Tpi, klo lagi BadMood, dialah pemilik emosi pling tinggi yg pernah saya kenal. Entah kenapa, tpi saya sdari hal yg pling tdak bisa ia redam adalah suatu sifat bernama “emosi”
Dan sore itu mungkin mnjdi puncak sgala penat kami, suatu event yg hrus mnbuat kami sdikit mngenyampingkn ego demi kebersamaan mnjadi saksi smuanya.
Dia marah besar, marah besar krena sdikit kekecewaan. Sejatinya, menunggu adalah rutinitas pling dibencinya, memang sangat dibencinya, dan hal itulah yg mnbuat sore ini sdikit agak angker. Dia memang terkenal sangat loyalitas waktu jika berbicara tentang kebersamaan, tdak pernah ada kata “TIDAK atau TUNGGU” darinya jika sdah brcerita tentang hal ini. Bahkan dakjarang dia jadi sarana penghubung kebersamaan itu, krna dia fleksibel jdi dia memang sdiikit memilki andil dlam smua kgiatan kami.
Dan sore itu demi sebuah “kebersamaan” dia mrelakan mnjadi cucu satu-satunya yg tdak ikut mnunggui neneknya yg sdang brjuang mnyambung hdup diRumah sakit, dia merelakan waktunya terbuang hanya untuk sbuah senyum kebersamaan, yah. Narasinya yg seharusnya deadline diabaikannya demi sbuah kbersamaan.
Akan tetapi, betapa kecewanya dia saat seseorang bgitu susah menepati janji, bgitu susah untuk mluangkan waktunya beberapa menit untuk sbuah senyuman sbgai gambaran satu smester ini. Berusaha menampik amarahnya, meredam egonya, berharap smuanya tdak akan berakhir dengan kata “BERANTAKAN” tapi dia tdak bisa, kejenuhan menanti cukup lama dengan mngabaikan banyak hal tdak mampu dibendung, kecewa itupun pecah dengan kemarahan.
Meski bgitu ia tetap brusaha tdak keterlaluan dan merusak smuanya, ia tetap brusaha mngatur semuanya, setelah ia sejenak menghindar berusaha melawan emosinya agar hari ini tdak berakhir dengan kebencian.
Butuh proses yg cukup lama, akhirnya suatu sesi yg mempertontonkan senyum bhagia itupun terlakasana, suasana kembali kondusif dengan senyum beberapa dri mreka, tpi tdak untuk dia, dia memilih mundur dri barisan senyum itu dan hanya menatap dri kejauhan.
Yh mungkin sja kami bisa mredam BadMood kami stelah pnantian panjang itu dan menggantinya dengan senyuman, meski jujur memang sdikit terpaksa. Tapi, dia?? Tdak sdikitpun segaris senyum terlukis diwajahnya, tatapannya kosong, dan tdak banyak yg menyadari dia mnyaksikan senyum kami dengan mata berkaca-kaca.
Dia menatap kami dngan ekspresi datar, tdak sdikitpun kami mnemukan senyum, seakan sore itu rembulan akan tenggelam diwajahnya. Mungkin tdak sdikit diantara kami yg tdak bisa mngerti dia sdikit murka dengan arogansinya sore itu, bisa jdi ada yg mngira belagunya dia selangit, tpi aku, krena aku shabatnya aku mngerti betapa kecewanya dia saat itu.
Kecewa krena mnyadari ternyata tdak smua orang punya loyalitas waktu sepertinya. Dan aku tau, untuk melebur bersama kami saat itu dibuthkan senyuman, tpi tentang hal ini tdak bisa dia paksakan, mungkin sja kami bisa melakukannya krena berbeda dengan dia, dia memang memiliki emosi yg sangat tinggi jdi BadMoodnya pun tdak mampu dia redam dan senyum itupun sirna, seakan tenggelam bersama mentari dikala senja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar