Minggu, 03 Juni 2012

secangkir realita pagi

Secangkir realita pagi

Seperti pagi-pagi kemarin, hari ini aku msih diberi kesempatan untuk membuka mata, setidaknya itu sudah mnjadi anugrah pagi trindah buatku. Dan seperti biasanya kumulai pagi dengan tersnyum, itulah caraku brdoa, meski tdak jarang doa itu mungkin ditabung dlu oleh Tuhan untuk masa depanku. 

Kusibakkan selimut ku, dan brusaha mnerima kenyataan pahit bahwa aku hrus moveOn dri rebahan empukk inii, meski ini tdak sepahit kegagalan-kegagalan yg hrus aku alami stiap brniat moveOn dri senior kecenganku, usaha yg kulakukan dri smester 1 (dan mirisnya skrang saya adalah Mahasiswa smester 5) tidak usah membyangkan betapa mnyedihkannya aku ini :D .

Rutinitas kedua yg biasanya kulakukan adalah mnghampiri jndelaku dan mnbukanya, kubiarkan udara segar yg nyaris sdah tdak bisa kita rasakan selain pagi hari ini masuk dan mnyapa stiap sudut kmarku, diluar sana terlihat jelas daun-daun yg msih basah bekas hujan tdi mlam, dan embun itu cukup setia melekat rata padanya, hingga gerimis yg tiba-tia dtang dan akhirnya meluruhkan mreka, embun itu trnyta tdk ckup kuat untuk bertahan dri butiran-butiran gerimis yg berhasil menghapusnya.

Sbenarnya sperti itulah perasaanku saat ini, gerimis yg dtang tanpa kuundang nyaris stiap hari menghampiriku, dan mnghapus smua kenangan tentangmu. Tapi, seperti gerimis yg hanya membasahi permukaan daun, sperti itu jugalah kamu, gerimis ini ternyata hanya meluruhkn kesadaranku sja, tpi kamu msih rutin menggerayangi alam bwah sadarku nyaris stiap mlam, kmu msih hdir dalam mimpiku,. Sehebat itulah kam menyita waktuku memikirkanmu sbelum aku terlelaap.

Hari demi hari nyaris kuhbiskan hanya untuk mnebak sikapmu, menjawab teka-teki yg entah apakh ada jwabannya. Itu kulakukan stiap pagi brsama kicauan Burung yg seakan brusaha mnghiburku.

1 komentar:

  1. sementara kamu (si gagal move on) menikmati udara pagi, saya malah mencari cara memerahkan semua tanggal di kalender a(´0`ƪ)

    *pagi.. si calon penulis besar*

    BalasHapus