Sabtu, 16 Juni 2012

kala Mendung menyapa mentari

Kamu, seseorang yg entah kusebut apa. Bisahkah sedetik saja kamu tdak hdir dlam hdupku? bisahkah senandung tentangmu tdak slalu mnyapa sepiku?  layaknya kala mendung menyapa mentari.

Tidak, ini tdak seharusnya kutanyakan padamu, pertanyaan ini sbenarnya hanya aku yg mampu mnjawabnya. Hanya perasaan yg entah apa inginnya yg mampu mnyelesaikan pertanyaan sulit ini.

Sejatinya, kamu tdaklah sehebat dia, setangguhdia, seluar biasa dia. Tapi, satu alasan yg mnbuatmu berbeda adalah kamu lebih istimewa. Entah knapa smua tentangmu adalah “istimewa” menurutku. Sungguh aku tdak mampu branjak drimu, daan smuanya hanya nyaris brhasil. Senyummu, keteduhan wajahmu dan rasa yg mnbuatmu lebih dri Indah inilah alasan dri kegagalan itu.

Setiap menatapmu seakan awan itu mnyentuh wajahmu, membuatku serasa berda dibawah pohon rindang diPuncak gunung nan sejuk. Meski sebenarnya dengan  konotasinya berbeda, yah kesejukan yg dlam artian lain mungkin sja mnbuatku lupa diri kmudian jatuh terpeleset kedataran dengan luka dalam yg bgitu sakit dan tdak smua orang mampu melihatnya.

Karena, hanya aku, hanya aku yg mampu merasakan betapa sakitnya bekas luka dri rasa yg kuciptakan sendiri ini. Lalu, mestihkah aku marah padamu? Ataukh mnyesali takdir yg telah mnbuatku mngenalmu?

Dan lagi, hanya aku yg punya jawabannya.
Semerbak sejuk dipagi hari, lalu terik sang mentari kala Siang terang hingga senja menyapa, bahkan ketika sisa sederet kunang-kunang pancarkan cahaya mlam sbgai sahabt sendiriku, hanya kamu yg mampu mnjadi orang ketiga diantara mreka.

Dan selalu, hanya sepenggal mimpi bersamamu yg setia mnjadi akhir dri ceritaku sepanjang penat ini. Dan spertinya lelah itu tdak pernah mnjdi alibi untuk bisa melupaknmu.

Dan kubiarkan rasa ini mnguasai hatiku, selama aku msih sanggup bertahan meski seseorang ternyata lebih indah buatmu. Dan itu bukan aku.

Meski bgitu Tak kan kusesali keadaan ini, takkan kusalahkan rasa ini. Aku percaya suatu saat nanti mendung ini tk kan mampu lagi myapku, menyapa mntari yg bila nanti akan tersenyum kala waktu itu telah datang. .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar