Listen to
my heart Boy
Kamu yang setiap malam kuceritkan pada Tuhan. Apa kbar??
Meski bersamamu mungkin hanya sekedar ilusi itu bukanlah alasanku
untuk beranjak darimu. Meski kutahu aku tak pernah punya ruang dihatimu itu
bukanlah masalah besar untukku. Yah. setegar itu lah rasa cintaku padamu.
Andai kau tahu, tingginya khayalku bersamamu bisa mnjadi tangga menuju
awan, besarnya harapku dicintaimu bisa menandingi Hulk bila rasa ini seorang Superhero,
kokohnya keyakinanku akan rasa ini bisa jadi pondasi yang sempurna untuk
membangun sebuah istana Raja.
Meski aku hanya mampu mencintaimu dalam hati, menatapmu dari kejauhan,
menyentuhmu dengan cinta. Yah, walau hanya sebatas itu tetap sja hal trsebut
tdak cukup tangguh untuk mnbuatku berhenti merajuk ruang dimensi tentangmu diantara
penantianku.
Balasan segaris senyum yg terlukis diwajahmu, atau sekedar kata “IA”
darimu saat aku berhasil mngumpulkan keberanian untuk menyapamu sja sdah lebih
dri ckup mnbuatku terbang bersama burung-burung dan menari-nari bersamaa seakan
mreka ikut mrasakn kbahagianku atas respon sederhnamu itu.
Meski kau tdak pernah tahu, atau mungkin hanya pura-pura tdak tahu. Selalu
ada aku disini, setia menantimu walau tdak jarang rasa sakit itu datang
mnghampiri ketika kamu lebih sering membagi tawamu dengan yg lain dibanding
mnjadikannya hadiah spesial untuk setiaku ini.
Terkdang memang terasa bgitu perih, tpi itu tdak ckup kuat untuk
membuatmu terdegradasi dari hatiku yg kmudian terlempar kluar dri arena
penantianku. Kamu, msih yg terindah, msih jdi pemuncak klesemen kasta tertinggi
hatiku, hari ini esok dan selamanya.
Kamu tahu, inginku bisa mnjdi yg trindah bgimu, inginku aku tdak hanya
skedar jeda dlam nafasmu. Smoga aku bukanlah kabut yg mnutuup bhagiamu, bukan
juga badai yg memorakporandakan senyummu, atau bahkan noda yg malah mengganggu
stiap ceriamu, atau mungkin parasit yg justru mrusak hari-harimu.
Aku ingin hujan punya cerita tentang kita. sperti pelangi yg slalu
hadir stelah hujan dtang, sperti embun yg slalu nampak cntik memikat daun meski
ia tanpa warna, sperti gerimis yg slalu membri kesejukan stelah terik sang
Mentari seakan membakar bumi, sperti desiran irama hujan yg slalu mnberikn nada
yg merdu, sperti rintik hujan yg tak pernah mnbuat hati sunyi. Aku ingin cerita
tentang kita berakhir sperti musim.
Musim kemarau yg tiba-tiba mnjadi indah saat musim hujan mulai menyapa
diselingi semilir dedaunam semi yg mnyejukkan hati, dan ketika panasnya hati tak
tertahan lagi krena perih ulahmu, aku ingin ada angin yg mnbawa udara dingin
penawar hati yg mulai tandus. ^_^
Ka
ef 173 ^_^
Makasihh ^_^
BalasHapus