Bukan karena rasa itu telah sirna , atau kejenuhan dalam sbuah penantian, atau bahkan kehadiran orang ketiga yg mnjadi penyebab berakhirnya sebuah hubungan jarak jauh.
Memutuskan untuk mnjalni hubungan jarak jauh itu bukan tanpa pemikiran yg ckup panjang, bukan tanpa pertimbangan yg sulit. Sampai pada saat sebuah kepercayaan mnjadi alibi yg cukup kuat untuk mnjalani smua ini.
Meski bukan tdak mungkin suatu saat nanti kepercayaan itu akan meluruh seiring semakin jauhnya jarak yg memisahkan kita, dan semakin lamanya waktu yg tdak mempertemakan kita. Tidak jarang juga terselip gundah dihati mengingat kamu yg jauh disana. Terkadang hati ini serasa sepi tanpa hadirmu, terkadang jiwa ini butuh kamu untuk bersandar ketika penat yg smakin mnbuatku jenuh.
Tapi, rasa sedih itu tiba-tiba datang saat mnydari sebuah kenyataan yg slalu ingin aku lupakan bahwa kamu tdak ada dsini, bahwa hanya bayang tentangmu yg slalu setia hadir menemani sunyiku.
Terkadang, ingin rasanya aku berlari menuju tempatmu, berlari secepat mungkin, kmudian rebah dipundakmu ketika lelah dan rindu itu dtang menyapaku. Tapi, itu tdak mungkin. Sekuat apapun aku berlari, sebesar apapun rasa rinduku itu tdak akn mampu mengantarku menemuimu.
Kamu, berada jauh disana. Entah sedang apa sekarang dan bersama siapa. Mungkinkah ada orang lain disana yg mampu mnbuatmu tersenyum selain aku disini. Mungkinkah ada yg lain yg sedang bersandar dipundakmu skrang selain aku.
Pertanyaan itu seakan mnbuatku ingin berteriak dan mnberi tahu kesemua orang bahwa kamu hanya milikku, bahwa kamu punya aku yg sangat kamu cintai.
Tapi, akhh. Tdak mungkin. Aku tdak sedang berada dismpingmu, atau berada ditempat yg sama denganmu. Kita memang msih berteduh dibawah kolong langit yg sama, berpijak pada lantai bumi yg sama. Tapi, bedanya kita berada dalam labirin yg tak sama.
Dan bila aku tdak bisa selalu berada disampingmu, apakah kamu msih mampu untuk setia pada cintaku?,apakah msih aku ratu pemilik tahta kerajaan hatimu? Apakah msih senyumku yg setia mnbayangi stiap bhagiamu?
Saat kau menjawab ia. Itu tdak serta merta membuatku lega. Aku takut jika nanti jwabanmu berubah mnjadi tidak, aku tdak mampu mnerima kenyataan itu krena terlanjur mencintaimu. Bukan berarti aku tdak yakin akan janjimu, tapi kamu hanya manusia, sama spertiku, dan terkadang sbuah harapan tdak sellu sejalan dengan kenyataannya.
Bukan tdak mungkin ada yg lain, yg bisa sja lebih dri indah dariku, meski saat ini kutau aku lebih berarti dri yg kutahu bagimu. Tapi, bisahkah kamu bertahan jika dia lebih sering mnberimu perhtian dibanding aku yg jauh drimu ini?
Bukan aku tdak percaya dengan setiamu, akan tetapi segala kekurangan yg aku miliki selalu mnjadi alasan utamu kekhawatiran ini. Jelas, aku bukanlah apa-apa jika dibanding dngan yg lain yg mungkin pernah dan akan kau temui disana. Aku yg katamu adalah definisi kebahagiannmu tdak ckup hebat untuk melawan setiap gundah itu
Jarak dan waktu memang bukanlah alibi yg bijaksana untuk mngakhiri sebuah hubungan, tapi terkadang hati ini tdak cukup lega jika hanya mndengar suaramu atau skedar melihat senyummu lewat smile emotion yg slalu kau kirim.
Krena hati ini butuh yg lebih dri sekedar itu. Seperti yg sering diterjemahkan pasangan yg slalu kutemui stiap brjalan sndiri ditengah keramaian. AKU INGIN KAMU DISINI berjalan bersamaku, memegang erat tanganku, dan berkata aku MENCINTAIMU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar