Senin, 23 September 2013

Memenangkan Ego

Senja memancarkan cahaya temaram nya kewajah sendu Rissa, gadis berkerudung yang sejak 2 jam lalu duduk sendiri di sudut Café menatap word laptop nya yang masih kosong.

Sesekali mata bulat nya melirik smartphone nya kemudian berpindah ke word kosong nya lagi, terkadang juga mengitarkan pandangan ke seisi Café seraya mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Seperti itu terus, entah apa yang ada di benak nya. Tapi untuk orang yang melihat raut wajah dan sikapnya, Mahasiswa semester 7 Fakultas Psikologi di sebuah perguruan tinggi swasta itu jelas punya masalah.

Bola mata hitam legamnya menangkap semua rutinitas di Café itu. ada yang sedang sibuk dengan keybord laptopnya, ada yang sibuk dengan berbagai macam merk smartphone nya, entah apa yang di lakukannya, mungkin lagi men stalking social media gebetannya, batin nya ketika itu. ada juga yang sedang bercanda dengan teman-temannya, ada yang sedang sibuk memadu kasih dengan kekasihnya, yah smoga bukan selingkuhannya, batinnya lagi.

Secangkir Moccacino ice yang menemaninya sejak awal tadi, belum tersentuh. Rissa seperti sedang memutar memori yang ada di kepalanya, tepatnya memori satu minggu yang lalu, ketika kejadian itu. kejadian yang membuatnya merasa kehilangan dan menolak kehadiran yang begitu berharga secara bersamaan. Semua karena satu sebab. PERASAAN.

            “ kamu kenal aku sejak kapan sih? Kamu tau kan baru kali ini aku suka sekali sama seseorang, kok kamu  tega sih Riss?” cecar Lenna saat menemui Rissa di rumahnya seraya menunjukkan apa yg sudah di bacanya. gadis berparas cantik bak model itu sesekali mengusap air matanya sendiri.

            Lenna adalah sahabat Rissa sejak di perguruan tinggi, persahabatan mereka begitu dekat melebihi sebuah persaudaraan. Rahasia Rissa adalah rahasia Lenna juga, begitupun sebaliknya. Lenna slalu menceritakan apa yg di alaminya pada Rissa, termasuk soal Bara. Bara adalah teman sefakultas mereka, bara adalah satu-satunya laki-laki yang mampu membuat Lenna jatuh cinta, dan hal itu pun di ceritakannya pada Rissa.

            Sebenarnya Rissa tidak pernah bereaksi apa-apa saat Lenna menceritakan semua ke kagumannya pada Bara, Rissa hanya jadi pendengar yang baik, tidak memberi saran apapun, meminta Lenna berhenti menginginkan Bara karena Bara telah jatuh cinta pada perempuan lain misalnya, Rissa tidak pernah tega mengatakan itu, apalagi saat ia sadar, wanita yang di cintai Bara itu adalah diri nya sendiri. Dan celakanya dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Lenna. Bedanya Rissa memiliki cinta yang berbalas, tapi Lenna, selama ini Lenna hanya jatuh cinta sendirian.

Rissa menjalani hubungan tanpa status dengan Bara, mereka dekat, dekat sekali malah, tapi Rissa tidak ingin membuat hubungan yang sesungguhnya bgitu di inginkan nya itu menjadi lebih serius. Alasannya sederhana. Hanya karena tidak ingin membuat Lenna tersakiti.

Dan seperti yang diharapkannyaa, Lenna sama sekali tidak tau soal kedekatannya dengan Bara, Lenna masih selalu asyik bercerita panjang lebar soal sikap manis Bara padanya, sikap-sikap Bara yang nyatanya hanya diartikan berlebihan oleh Lenna. Lenna selalu bercerita bahwa Bara memberinya harapan palsu, padahal sebenarnya hanya Lenna yang terlalu pede, Bara yang selalu di nilai Lenna ingin membuatnya cemburu, padahal sebenarnya itu hanya mindset hasil ciptaan nya sendiri.

            Terkadang Rissa merasa bersalah pada sahabat baiknya itu, ingin jujur namun Dia tidak tega, ingin mengalah tapi Dia juga tidak cukup hebat untuk itu. iba nya ingin melakukannya tapi hati nya tidak pernah memberi ijin untuk itu.

            Hingga pada saat itu. lenna mengetahui semua kebenaran itu sendiri. Semua berawal dari ke usilan nya. Waktu itu smartphone Rissa tertinggal di rumah Lenna, saat menyadari itu Lenna dengan usilnya membuka chat Blackberry messenger Rissa, dan….. Dia mendapati nama Bara disana. Ke usilannya pun berubah menjadi rasa penasaran. Di baca nya hal yg seharusnya tidak boleh dilakukannya tanpa ijin, namun rasa penasaran nya menampik smua kaidah itu.

            Lenna membaca smua percakapan social media itu dengan jelas, Bara yang mengatakan sama sekali tidak mencintainya, Bara yg selama ini bersikap baik yang Dia salah artikan itu hanya demi menjaga hubungan baik dengannya sebagai sahabat baik wanita yg di cintai nya, Bara yg jelas-jelas mengatakan bahwa Dia mencintai Rissa, bukan dirinya.

            Tanpa sadar, air mata menyusuri wajah cantiknya, pipi yang selalu terlihat seakan bersemu merah itu kini berubah menjadi aliran air mata yg bgitu deras. Hatinya berantakan, tidak pernah terpikir di benaknya Rissa menyembunyikan hal seperti ini. Sebenarnya Dia tidak ingin sepenuhnya menyalahkan Rissa, namun emosi itu tidak bisa diajak berkompromi, ego nya tidak mampu mentolerir semua kenyataan pahit ini.

            “ jawab Riss, kenapaa?” lanjutnya dengan ekspresi yang begitu menyakitkan bagi Rissa
            “Maaf Lenn, tapi ini smua tidak seperti yang kamu pikirkan” jawab Rissa dengan raut wajah yang begitu merasa bersalah.

            “tidak sperti yang ku pikirkan? Menurutmu stelah melihat smua ini, aku harus memikirkan apa? Berpikir bahwa ini smua hanya candaan? Berpikir bahwa ini hanya caramu untuk membuatku dekat dengannya? Kau memintaku untuk memikirkan smua Omong kosong itu?” cecarnya kini dengan nada yang sedikit lebih tinggi

            “Lenna maafkan aku, aku hanya tidak ingin membuatmu tersakiti. Aku serius”

            “lalu kamu pikir dengan seperti ini, aku baik-baik saja? Aku mengetahuinya sendiri, secara kebetulan karena keusilan ku, bukan dari kejujuranmu, tidakkah kamu berpikir itu jauh lebih sakit?”

lenna menangis di depan sahabat yang begitu di sayangi nya itu, bahkan saat mengetahui semua kenyataan itu, bahkan ketika kini ia sedang menyidang sahabatnya itu, disamping kekecewaannya, disisi lain Lenna juga sangat menyayangi Rissa. Karena itu, karena itulah sebenarnya Dia tidak bisa menahan air matanya.

            Dia tidak hanya kecewa pada Rissa yang sudah tidak jujur padanya, tapi Dia juga kecewa pada dirinya, pada dirinya yang dibutakan perasaan, sehingga menjadi tidak peka pada perasaan Rissa, kecewa pada dirinya yang dengan bodohnya menyalah artikan sikap Bara selama ini.

            Sejak kejadian di rumahnya itu, Rissa tidak pernah berkomunikasi baik lagi dengan Lenna , setelah Lenna meninggalkan nya sendiri diantara rasa bersalah. Lenna menghindarinya, lebih tepatnya menjauhi nya, tidak ada balasan sms, blackberry messenger, bahkan jawaban telpon dari Lenna setelah itu. dia benar-benar meninggalkan Rissa dalam arti yang sebenarnya.

            Rissa merasa ada yang kosong dalam dirinya, ada sesuatu yang dulu pernah dimilikinya namun sekarang tidak ada lagi, Rissa kehilangan, kehilangan sesuatu yang begitu sangat berharga. Sahabat

            Setelah kejadian itu Rissa menceritakan semuanya pada Bara, gadis yang sebelumnya tampak selalu ceria dimata Bara. Kini Dia menangis, ada rasa sesal, rasa bersalah yang begitu besar di mata gadis ini, Bara bisa membacanya dengan jelas.

            “Tidak ada yang salah”, kata Bara ketika itu, “

bukan salah mu, Salah Lenna, salah ku, salah cinta, atau salah keadaan. Semua ini hanya kekeliruan. Ucap Bara bijaksana.

“Semua akan baik-baik saja, setiap orang punya ego nya masing-masing, setiap orang punya emosinya masing-masing, dan semua itu di kendalikan oleh perasaan, perasaan yang Terkadang membuat kita melupakan semuanya, perasaan yang tidak jarang membuat kita tidak mengerti apa yg telah kita lakukan, membuat akal sehat kita sedikit tak berguna” lanjut Bara lagi kala itu

Rissa mendengus, menghebuskan nafas kuat-kuat, menarik nafas panjang, kemudian membuangnya lagi. Moccacino ice yang sama sekali sudah tidak ice itu akhirnya tersentuh, kemudian menyeruputnya sekaligus, entah karena sudah terlalu lama terabaikan, Moccacino itu sudah tidak berasa apa-apa lagi, hambar, setidaknya itu yang dirasakan indra pengecap Rissa.

“Riss, kamu disini?”

            Rissa tersentak, hampir saja Ia tersedak oleh Moccacino hambar itu. Rissa mengenal baik suara yang tidak asing itu, suara yang sudah lama tdak didengar telinganya, suara yg ia sangat rindukan, suara serak khas itu milik Lenna.

            Rissa menoleh ke sumber suara tadi, tepat disampingnya, berdiri seorang perempuan cantik, berambut panjang, tinggi yang menjulang dengan kulit putih bersih, cantik sekali dengan balutan dress biru selutut nya. Dia Lenna.

            Lenna sangat cantik, jauh sekali jika harus dibandingkan dengan Rissa, Rissa gadis berwajah tirus yang biasa-biasa saja itu belum habis pikir kenapa seorang Bara justru lebih memilihnya dibanding Lenna yang bak bidadari inii.

            “karena hatiku yg memilihmu” tiba-tiba sekelabat Rissa mengingat jawaban Bara saat ia menanyakan hal konyol itu.

            Ah, apa yang sedang Dia pikirkan, dihadapannya kini ada Lenna, sosok yang sangat di rindu nya.

            Lenna duduk tanpa menunggu kalimat dari Rissa, ia tersenyum manis sekali. Sebuah ekspresi yang berbeda 180 derajat kala terkahir mreka bertemu.

            “heii kok bengong? Masih ingat aku kan? Kamu lupaa? Ah Rissa kamu keterlaluan” candanya mencoba mencairkan suasana seraya memanyunkan bibir tipisnya.

            “Lenna, kamu…. Kamu kenapa bisa tau aku disini?” Rissa masih canggung, ia mencoba menatap wajah sahabtnya itu lekat-lekat, ah raut wajah yang begitu teduh. Batin Rissa saat itu

            “tentu saja aku tau, kamu lupa kalau kita bersahabat? Bukannya ini satu-satunya tempat pelarianmu ketika ada masalah, dan …. “ bicara Lenna terhenti sejenak.

            “dan ketidak hadiranku bukannya masalah besar bagimu? Aku tau kamu disini, karena aku, aku belum melupakan apa-apa tentangmu”

            “Lenna, maafin aku, akuu tidak bermaksud…..” belum selesai ia bicara, Lenna mendengus.

            “hemmm, ayolah Riss jgan katakan itu lagi, kamu sudah pernah mengatakannya, bisahkah sedikit kreatif? Aku hanya butuh waktu Riss, butuh waktu untuk memahami ini smua dengan kepala dingin, anggap saja kemarin itu hanya cara ku meluapkan ego. Aku minta maaf sudah membuatmu serba salah” ucapnya santai seraya tersenyum

            “Lenn, kamu?’

            “kenapa? Aku baik? Iyyalah, itu rahasia umum, fiuh tapi sayangnya Bara lebih menyukaimu, hahaaaa. Sudahlah Riss, kita sudah terlalu dewasa untuk menyikapi hal sperti itu dengan ego, tapi kamu jgan lakukan itu lagi yah? Semua hubungan itu harus dengan kejujuran, termasuk persahabatan, hal yang menurut sisi kita baik, belum tentu baik di sisi orang lain, seringkali kita justru melakukan hal yang sebenarnya bgitu kita hindari, jgan bermain petak umpet dengan perasaan karena itu sensitive tidak smua orang bisa mencerna nya dengan baik, dan aku nyaris seperti itu, untung ada Bara, Bara menjelaskan smuanya dengan bijaksana, Dia membantuku membuka jalan berpikirku yang sudah mulai buntu”

            “Baraa?”

            “iyya, kamu pikir Dia hanya diam melihat konflik rumit ini? Dia yang menyadarkanku bahwa kamu jauh lebih berharga darinya bagiku, stelah aku pikir, apa aku sanggup menyadari kamu dan Dia tersakiti hanya krena egoku, bukankah jauh lebih bahagia melihat orang yg kita sayangi sama-sama bahagia? Tapi tenang saja, aku menyanginya kini tidak lebih dari sekedar teman, atau katakan saja tidak lebih sebagai kekasih sahabatku”

            “ini serius?” Rissa masih setengah percaya, klau memang sperti ini, bukankah ini akhir yang bgitu bahagia. Batinnya kemudian

            “tidak, ini hanya settingan reality show Rissa. Iyyalah serius, gila aja, aku udah susah payah ngapalin kalimat-kalimat ini masa’ di bilang becanda” goda Lenna seraya mendengus

Rissa akhirnya tertawa, sikap ajaib sahabat cantiknya ini benar-benar selalu penuh kejutan. 

Lenna yang bisa mengalahkan ego nya, Lenna yang begitu dewasa, Lenna yang baik. Lenna yang selalu membuatnya merasaa nyaman. Rissa tidak ingin lagi kehilangan sahabatnya ini, tidak lagi. Meski itu harus di hadapkan pada sebuah pilihan, Bara yg kini resmi jadi kekasihnya atau Lenna sahabat rumit nya ini.

            Lenna akan selalu yang terbaik bagi Rissa, dan Bara, paham jelas persoalan itu. karena persahabatan itu selalu mengerti, persahabatan itu tidak pernah ada kata “mantan” karena terlalu boodoh untuk menukarnya hanya dengan cinta yang belum pasti.


Karena tidak ada yang lebih mengerti dari persahaban, selain persahabatan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar