“Dannnnn………….”
Dania berbalik kearah
seseorang yang baru saja memanggilnya, dari jarak beberapa meter berdiri
seorang laki-laki. Laki-laki tersebut kemudian berlari-lari pelan menghampiri
Dania yang mematung. Kini laki-laki berperawakan tinggi, berkulit sawo matang,
mata yang tajam, hidung mancung, alis yang nyaris terlihat bersambung,
terbingkai sempurna pada wajah tirus dengan rahang yg tercetak jelas itu
berdiri tepat di depannya. Dia Randi Putra Mahesa teman satu fakultas Dania.
Dania adalah
Mahasiswa semester 7 Ilmu Hukum di salah satu Universitas Negeri terkemuka di
kotanya. Gadis berambut panjang ala-ala bintang iklan shampoo itu seorang yang
lebih cocok dengan definisi gadis manis, dia cantik tapi tidak cukup cantik
untuk jadi bintang iklan kosmetik. Dia manis dengan kacamata nya, bukan
kacamata mines sebenarnya, hanya aksesoris untuk membuatnya terlihat lebih dewasa,
katanya.
“mau kemana? ngopi
yuk, gue mau ngomong kerjaan juga sama lo” kata Randi kemudian membuyarkan
tatapan Dania pada setiap sudut wajah Randi yg disebutnya sangat simetris ini.
“Ooo boleh” jawabnya
singkat sembari tersenyum manis tepatnya manis sekali, setidaknya itu yg sempat
di bahasakan oleh mata Randi. Dania memang tidak cocok untuk jadi bintang iklan
kosmetik, wajahnya sudah sangat teduh tanpa polesan bedak atau kosmetik yg
selalu melekat tebal di wajah perempuan pada umumnya. Dan Randi menyukai tipe
wanita seperti Dania.
“kerjaan apaaa?”
todong Dania langsung saat mereka sudah duduk berhadapan di sebuah meja sudut
kantin fakultas.
“widih selow dong
Neng, baru juga nyampe, belum juga nafas, belum juga pesan minum” jawab Randi
sembari membuka jaket hitam bertuliskan “Los Blancos Real Madrid” yg diatasnya
terdapat sebuah logo Club yg dipakainya tdi lalu meletakkannya di meja,
Kemudian memesan 2 jus Melon pada Ibu kantin.
“oke, nafas udah,
duduk udah, pesan minum udah, jadi kita mau ngobrol apa nih?” todong Dania
lagi. Gadis yg saat itu terlihat santai dengan celana jeans hitam, kaos oblong abu-abu
berlengan pendek, rambut di cemplon itu memang bukan termasuk orang yg suka
basa-basi.
“jadi weekend ini
majalah gue lagi mau bahas soal hiruk pikuk jalan Malioboro, gue akan memotret
smua hal yg yg bisa membuat Malioboro menjadi target wisata bagi orang Jogja
sendiri dan tentunya wisatawan yg akan dan mau datang ke sana.” Jelas Randi
kemudian menyeruput Jus Melon yang baru saja dibawakan Ibu kantin. Randi adalah
seorang fotografer tetap di sebuah Majalah ternama di Jogja. Selain tertarik di
bidang hukum, Randi juga adalah seorang laki-laki yg begitu menyukai dunia
memotret, baginya mengabadikan semua hal dalam sebuah frame foto memiliki
kepuasaan tersendiri baginya.
“terus kerjaan gue
ngapain?” Tanya Dania lagi
“jadi asisten gue”
jawabnya singkat seraya menyunggingkan senyum yang entah kenapa seakan membuat
hati Dania berdesir.
“Asisten lo? Memang
fotografer majalah punya asisten? Trus kerjaan gue ngapain? Bersih-bersihin
lensa kamera lo?” Tanya nya lagi kali ini dengan pertanyaan bertrilogi
“gaklah, gue minta lo
jadi asisten bukan pembantu. Gak smua fotografer punya asisten sih, mungkin
malah terdengar aneh, tapi untuk hal ini gue butuh bantuan lo, gue butuh
pendapat harus motret apa, bagusnya temanya apa, gue mau ada korelasi antara foto
yg satu dengan foto yg lain biar relevan, dan lo kan juga jago nulis, lo bisa
ngasih tambah-tambahan narasi lah setelah foto itu gue edit, intinya klo ada
lo, gue bisa nyelesain satu rubric dengan sempurna. yah sbenarnya gue juga males sih jalan-jalan
ke Malioboro sendirian, sekalipun soal pekerjaan, klo ada lo kan jadi lebih
seru” jelas Randi panjang lebar, namun dari semua alasan, alasan terakhirlah yg
sebenarnya paling utama bagi Randi.
Entah kenapa akhir-akhir ini
Randi selalu ingin menghabiskan waktu dengan Dania, Gadis yg mulai akrab
denganya sejak acara Fakultas itu membuatnya terkadang senyum-senyum sendiri
saat memikirkannya. Di mata tajam Randi, Dania adalah gadis yg berbeda dengan
gadis lain, entah apa bedanya, tapi Randi merasa seperti itu, tawa lepas Dania,
senyum tipisnya, cara bicaranya, karakternya, Randi suka smua apa yg dimiliki
Gadis ini. Bahkan sifat moodyan nya..
Randi tau Dania bisa
berubah dari terlihat begitu Bahagia menjadi Dania yg bermuka kusut hanya
karena membaca gossip jelek mengenai figure idolanya, yah semudah itu mood
perempuan ini berubah, perempuan yg pelan tapi pasti membuatnya menjadi Randi
yg kembali memiliki hati, karena skrang
Dia bisa merasakan perih itu saat Dania dekat dengan pria lain.
Randi pernah menjalin
hubungan serius selama 4 tahun dengan seorang perempuan, namun semuanya
berakhir gelap ketika perempuan yg berbeda 180 derajat dari Dania itu memilih
menikah dengan pria pilihan orang Tua nya. Sejak itu Randi memilih sendiri,
menutup dirinya kurang lebih 2 tahun dari mahluk bernama wanita. Tapi, tapi
saat bertemu Dania ada yang berbeda, entah kenapa Randi seakan menemukan
kembali perasaan lain yg dulu pernah membuanya bgitu menyukai seseorang selama
4 tahun.
“oke, boleh juga,
kebetulan weekend nanti gue nganggur, yah nemenin Ario Bayu KW kayak lo
bolehlah” jawabnya seraya menggoda Randi dengan menaik turunkan alis cantiknya.
Selain senyum, alis adalah bagian lain dari Dania yang sangat Randi sukai, Alis
Dania sempurna, alis yg di idam-idamkan wanita hingga rela mengganti alisnya
dengan alis buatan. Tapi tidak pada Dania, alis cantik itu langsung dari Allah.
“Ario bayu KW? Ayolah
Dann, gue jauh lebih kece kali dari dia” jawab Randi melongos.
“ gue itu Patrick
Wilson tau, lebih kece malah” tambahnya lagi seraya menjulurkan lidahnya ke
arah Dania.
“oon, bikin pilihan
tuh yang miripan dikit kek, dari Ario Bayu ke Patrick Wilson kolerasinya dimana
toh” kelakarnya seraya membalas juluran lidah Randi.
Randi memang lebih
mirip pemeran Josh di film Insidious itu, mungkin Randi adalah Patrick Wilson
saat berusia 21 tahun. Setidaknya itu tebakan Dania.
Matahari pagi
Jogjakarta menyambut mereka begitu hangat, jalan Malioboro memang tdak pernah
sepi pengunjung, banyak hal menarik yang bisa kita temui di tempat ini, penjual
aksesoris, deretan jajanan kota jogja, alunan music jalanan khas jawa yg begitu
mendayu-dayu, ah Malioboro begitu mempesona.
Sinar matahari pagi memantulkan
cahayanya pada sudut kacamata Dania, membuat bola mata hitam legam gadis yang
hobby mencemplon rambutnya itu terlihat berbinar. Disampingnya, berdiri seorang
laki-laki yg mengenakan junper hitam dengan celana jeans senada seraya focus
dengan kamera Canon yg sedang di operasikannya. Laki-laki yg tampak sempurna
dengan sepatu converse abu-abu itu adalah Randi.
Beberapa jam mereka
berdua terlihat begitu sibuk dengan tujuan mereka ke tempat itu, sebuah kolom
rubric di majalah tempa Randi bekerja.
Waktu sudah
menunjukkan pukul 01.00 siang, matahari sudah sangat tidak ramah lagi, Jogja
yang dulu begitu nyaman bagi Dania sudah tdak ada lagi, kota ini sudah terasa
menyengat saat jam-jam sperti ini, mungkin karena sudah terlalu banyak manusia
di dalamnya.
Randi mengajak Dania
ke sebuah Café tidak jauh dari tempat mereka berdiri, café langganan Randi
ketika berada di sekitar Malioboro. Setelah mengambil tempat paling nyaman
menurut mereka. usai memesan secangkir Cappucino ice untuk Dania, dan secangkir
lagi Americano untuk Randi. Mereka bercerita panjang lebar soal pekerjaan tadi,
obrolan yang bgitu menyenangkan sampai tidak sadar bahwa cangkir Cappucino ice
dan Americano tadi sudah tak berisi lagi.
Dania memesan ice
cream lagi, mereka masih melanjutkan obrolan itu, sampai pada akhirnya Randi
mencoba mengakhiri misi utama untuk hari ini. Ia menghela nafas panjang,
seperti sedang berpikir, kemudian mencoba menciptakan suara.
“Dann, aku suka sama
kamu”
Dania tersedak ice cream, entah kenapa ia merasa ice cream itu terasa
hambar, ia menatap Randi tajam, mencoba mencerna baik kalimat Randi barusan.
“aku suka sama kamu
Dann. Ardania Hadi Putri, aku, Randi Putra Mahesa jatuh cinta padamu” ungkap Randi
dengan tatapan tak kalah tajam.
“Randii……” Dania
bergumam lirih, ia menghela napas panjang. Menatap wajah Randi lekat-lekat. Ada
keseriusan di bola mata hitam laki-laki itu, ada ke jujuran di sana.
“Daniaa, aku bukan
penulis, penyair atau seorang pujangga, aku bukan Neuruda yg bgitu hebat
merangkai kata, aku juga bukan shekspere yg bgitu mahir mencipta kalimat. Aku
tidak romantiss, aku tidak tau bgaimna caranya merangkai kalimat puitis untuk
sekedar mengatakan aku menyukaimu, yang aku bisa katakan hanya aku jatuh cinta
padamu, hanya itu.”
Ice cream vanilla
Dania yang baru 2 kali sendok itu terabaikan, mencair. Secair perasaan Dania
sekarang. Laki-laki itu benar-benar menyatakannya. Selama ini ternyata Dia
tidak jatuh cinta sendirian. Dania tidak menyukai laki-laki yg terlalu banyak
bicara, menurutnya laki-laki yg terlalu pintar bicara juga pintar menipu. Dania
suka pernyataan tanpa basa-basi Randi, Dania tidak suka pada orang yang terlalu
sering basa-basi yg hanya akan berakhir seperti soto yg dianggurin 5 hari.
Busukk.
Dania kemudian
tersenyum di depaan wajah tegang Randi, ah senyum itu manis sekali, batin
Randi. Senyumnya, alisnya, rambut cemplon nya, Randi menyukai semua hal yg ada
pada Dania. Randi benar-benar jatuh cinta.
Tapi, dia menyayangi Dania bukan krena alis, senyum, rambut cemplon
atau hal lainnya. Sampai saat kata-kata yg membuat jantung Dania berdesir itu
di ucapkannya, Randi tdak tau alasan mengapa ia begitu nyaman dan sangat
menyayangi gadis yang tidak pernah dilihatnya berpoles makeup ini.
Rasa senang, getaran yg sulit dibahasakan, pembelaan demi pembelaan yg
dilontarkan hatinya saat menyaksikan sisi menyebalkan gadis ini. Hanya itu yang
di rasakan Randi. Ia tidak punya alasan jelas, seperti Dania yg tdak pernah
punya alasan untuk menolaknya.
Dan akirnya, Patrick
Wilson 21 tahun itu sekarang adalah kekasih Dania, ini untuk pertama kalinya
Dania menjalin hubungan lebih dari teman dengan seorang laki-laki, Dania tidak
mengerti apakah Randi merasa nyaman dengan perlakuannya, Apakah Randi menyukai
caranya mencintai. Seperti Dia yang bgitu nyaman dengan perlakuan sederhana
Randi, dia yg bgitu menikmati cara Randi mencintainya. Randi selalu memberikan
perhatian padanya tanpa ia minta, Randi selalu bisa mengertinya tanpa ia
jelaskan. Dan Randi merasa begitu lengkap saat berada di samping wanitanya ini.
Bukankah cinta memang harusnya seperti ini, memberi tanpa meminta,
mengerti tanpa menjelaskan dan merasa terlengkapi hanya dengan berdua. tidak
dengan mencari kelengkapan lain diluar sana.
Bukankan cinta memang harus selalu jelas, tegas, pasti tanpa
basa-basi? Bukankah cinta memang tidak ada keragu-raguan? cinta Karena cinta,
bukan cinta karena sederet omong kosongnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar