Sabtu, 21 September 2013

siang hari di Malioboro

“Dannnnn………….”

            Dania berbalik kearah seseorang yang baru saja memanggilnya, dari jarak beberapa meter berdiri seorang laki-laki. Laki-laki tersebut kemudian berlari-lari pelan menghampiri Dania yang mematung. Kini laki-laki berperawakan tinggi, berkulit sawo matang, mata yang tajam, hidung mancung, alis yang nyaris terlihat bersambung, terbingkai sempurna pada wajah tirus dengan rahang yg tercetak jelas itu berdiri tepat di depannya. Dia Randi Putra Mahesa teman satu fakultas Dania.

            Dania adalah Mahasiswa semester 7 Ilmu Hukum di salah satu Universitas Negeri terkemuka di kotanya. Gadis berambut panjang ala-ala bintang iklan shampoo itu seorang yang lebih cocok dengan definisi gadis manis, dia cantik tapi tidak cukup cantik untuk jadi bintang iklan kosmetik. Dia manis dengan kacamata nya, bukan kacamata mines sebenarnya, hanya aksesoris untuk membuatnya terlihat lebih dewasa, katanya.

            “mau kemana? ngopi yuk, gue mau ngomong kerjaan juga sama lo” kata Randi kemudian membuyarkan tatapan Dania pada setiap sudut wajah Randi yg disebutnya sangat simetris ini.

            “Ooo boleh” jawabnya singkat sembari tersenyum manis tepatnya manis sekali, setidaknya itu yg sempat di bahasakan oleh mata Randi. Dania memang tidak cocok untuk jadi bintang iklan kosmetik, wajahnya sudah sangat teduh tanpa polesan bedak atau kosmetik yg selalu melekat tebal di wajah perempuan pada umumnya. Dan Randi menyukai tipe wanita seperti Dania.

            “kerjaan apaaa?” todong Dania langsung saat mereka sudah duduk berhadapan di sebuah meja sudut kantin fakultas.

            “widih selow dong Neng, baru juga nyampe, belum juga nafas, belum juga pesan minum” jawab Randi sembari membuka jaket hitam bertuliskan “Los Blancos Real Madrid” yg diatasnya terdapat sebuah logo Club yg dipakainya tdi lalu meletakkannya di meja, Kemudian memesan 2 jus Melon pada Ibu kantin.

            “oke, nafas udah, duduk udah, pesan minum udah, jadi kita mau ngobrol apa nih?” todong Dania lagi. Gadis yg saat itu terlihat santai dengan celana jeans hitam, kaos oblong abu-abu berlengan pendek, rambut di cemplon itu memang bukan termasuk orang yg suka basa-basi.

            “jadi weekend ini majalah gue lagi mau bahas soal hiruk pikuk jalan Malioboro, gue akan memotret smua hal yg yg bisa membuat Malioboro menjadi target wisata bagi orang Jogja sendiri dan tentunya wisatawan yg akan dan mau datang ke sana.” Jelas Randi kemudian menyeruput Jus Melon yang baru saja dibawakan Ibu kantin. Randi adalah seorang fotografer tetap di sebuah Majalah ternama di Jogja. Selain tertarik di bidang hukum, Randi juga adalah seorang laki-laki yg begitu menyukai dunia memotret, baginya mengabadikan semua hal dalam sebuah frame foto memiliki kepuasaan tersendiri baginya.

            “terus kerjaan gue ngapain?” Tanya Dania lagi

            “jadi asisten gue” jawabnya singkat seraya menyunggingkan senyum yang entah kenapa seakan membuat hati Dania berdesir.

            “Asisten lo? Memang fotografer majalah punya asisten? Trus kerjaan gue ngapain? Bersih-bersihin lensa kamera lo?” Tanya nya lagi kali ini dengan pertanyaan bertrilogi

            “gaklah, gue minta lo jadi asisten bukan pembantu. Gak smua fotografer punya asisten sih, mungkin malah terdengar aneh, tapi untuk hal ini gue butuh bantuan lo, gue butuh pendapat harus motret apa, bagusnya temanya apa, gue mau ada korelasi antara foto yg satu dengan foto yg lain biar relevan, dan lo kan juga jago nulis, lo bisa ngasih tambah-tambahan narasi lah setelah foto itu gue edit, intinya klo ada lo, gue bisa nyelesain satu rubric dengan sempurna.  yah sbenarnya gue juga males sih jalan-jalan ke Malioboro sendirian, sekalipun soal pekerjaan, klo ada lo kan jadi lebih seru” jelas Randi panjang lebar, namun dari semua alasan, alasan terakhirlah yg sebenarnya paling utama bagi Randi.

 Entah kenapa akhir-akhir ini Randi selalu ingin menghabiskan waktu dengan Dania, Gadis yg mulai akrab denganya sejak acara Fakultas itu membuatnya terkadang senyum-senyum sendiri saat memikirkannya. Di mata tajam Randi, Dania adalah gadis yg berbeda dengan gadis lain, entah apa bedanya, tapi Randi merasa seperti itu, tawa lepas Dania, senyum tipisnya, cara bicaranya, karakternya, Randi suka smua apa yg dimiliki Gadis ini. Bahkan sifat moodyan nya..

            Randi tau Dania bisa berubah dari terlihat begitu Bahagia menjadi Dania yg bermuka kusut hanya karena membaca gossip jelek mengenai figure idolanya, yah semudah itu mood perempuan ini berubah, perempuan yg pelan tapi pasti membuatnya menjadi Randi yg kembali memiliki hati, karena  skrang Dia bisa merasakan perih itu saat Dania dekat dengan pria lain.

            Randi pernah menjalin hubungan serius selama 4 tahun dengan seorang perempuan, namun semuanya berakhir gelap ketika perempuan yg berbeda 180 derajat dari Dania itu memilih menikah dengan pria pilihan orang Tua nya. Sejak itu Randi memilih sendiri, menutup dirinya kurang lebih 2 tahun dari mahluk bernama wanita. Tapi, tapi saat bertemu Dania ada yang berbeda, entah kenapa Randi seakan menemukan kembali perasaan lain yg dulu pernah membuanya bgitu menyukai seseorang selama 4 tahun.

            “oke, boleh juga, kebetulan weekend nanti gue nganggur, yah nemenin Ario Bayu KW kayak lo bolehlah” jawabnya seraya menggoda Randi dengan menaik turunkan alis cantiknya. Selain senyum, alis adalah bagian lain dari Dania yang sangat Randi sukai, Alis Dania sempurna, alis yg di idam-idamkan wanita hingga rela mengganti alisnya dengan alis buatan. Tapi tidak pada Dania, alis cantik itu langsung dari Allah.

            “Ario bayu KW? Ayolah Dann, gue jauh lebih kece kali dari dia” jawab Randi melongos.

            “ gue itu Patrick Wilson tau, lebih kece malah” tambahnya lagi seraya menjulurkan lidahnya ke arah Dania.

            “oon, bikin pilihan tuh yang miripan dikit kek, dari Ario Bayu ke Patrick Wilson kolerasinya dimana toh” kelakarnya seraya membalas juluran lidah Randi.

            Randi memang lebih mirip pemeran Josh di film Insidious itu, mungkin Randi adalah Patrick Wilson saat berusia 21 tahun. Setidaknya itu tebakan Dania.

            Matahari pagi Jogjakarta menyambut mereka begitu hangat, jalan Malioboro memang tdak pernah sepi pengunjung, banyak hal menarik yang bisa kita temui di tempat ini, penjual aksesoris, deretan jajanan kota jogja, alunan music jalanan khas jawa yg begitu mendayu-dayu, ah Malioboro begitu mempesona.

            Sinar matahari pagi memantulkan cahayanya pada sudut kacamata Dania, membuat bola mata hitam legam gadis yang hobby mencemplon rambutnya itu terlihat berbinar. Disampingnya, berdiri seorang laki-laki yg mengenakan junper hitam dengan celana jeans senada seraya focus dengan kamera Canon yg sedang di operasikannya. Laki-laki yg tampak sempurna dengan sepatu converse abu-abu itu adalah Randi.

            Beberapa jam mereka berdua terlihat begitu sibuk dengan tujuan mereka ke tempat itu, sebuah kolom rubric di majalah tempa Randi bekerja.

            Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 siang, matahari sudah sangat tidak ramah lagi, Jogja yang dulu begitu nyaman bagi Dania sudah tdak ada lagi, kota ini sudah terasa menyengat saat jam-jam sperti ini, mungkin karena sudah terlalu banyak manusia di dalamnya.

            Randi mengajak Dania ke sebuah Café tidak jauh dari tempat mereka berdiri, café langganan Randi ketika berada di sekitar Malioboro. Setelah mengambil tempat paling nyaman menurut mereka. usai memesan secangkir Cappucino ice untuk Dania, dan secangkir lagi Americano untuk Randi. Mereka bercerita panjang lebar soal pekerjaan tadi, obrolan yang bgitu menyenangkan sampai tidak sadar bahwa cangkir Cappucino ice dan Americano tadi sudah tak berisi lagi.

            Dania memesan ice cream lagi, mereka masih melanjutkan obrolan itu, sampai pada akhirnya Randi mencoba mengakhiri misi utama untuk hari ini. Ia menghela nafas panjang, seperti sedang berpikir, kemudian mencoba menciptakan suara.

            “Dann, aku suka sama kamu”

Dania tersedak ice cream, entah kenapa ia merasa ice cream itu terasa hambar, ia menatap Randi tajam, mencoba mencerna baik kalimat Randi barusan.

            “aku suka sama kamu Dann. Ardania Hadi Putri, aku, Randi Putra Mahesa jatuh cinta padamu” ungkap Randi dengan tatapan tak kalah tajam.

            “Randii……” Dania bergumam lirih, ia menghela napas panjang. Menatap wajah Randi lekat-lekat. Ada keseriusan di bola mata hitam laki-laki itu, ada ke jujuran di sana.

            “Daniaa, aku bukan penulis, penyair atau seorang pujangga, aku bukan Neuruda yg bgitu hebat merangkai kata, aku juga bukan shekspere yg bgitu mahir mencipta kalimat. Aku tidak romantiss, aku tidak tau bgaimna caranya merangkai kalimat puitis untuk sekedar mengatakan aku menyukaimu, yang aku bisa katakan hanya aku jatuh cinta padamu, hanya itu.”

            Ice cream vanilla Dania yang baru 2 kali sendok itu terabaikan, mencair. Secair perasaan Dania sekarang. Laki-laki itu benar-benar menyatakannya. Selama ini ternyata Dia tidak jatuh cinta sendirian. Dania tidak menyukai laki-laki yg terlalu banyak bicara, menurutnya laki-laki yg terlalu pintar bicara juga pintar menipu. Dania suka pernyataan tanpa basa-basi Randi, Dania tidak suka pada orang yang terlalu sering basa-basi yg hanya akan berakhir seperti soto yg dianggurin 5 hari. Busukk.

            Dania kemudian tersenyum di depaan wajah tegang Randi, ah senyum itu manis sekali, batin Randi. Senyumnya, alisnya, rambut cemplon nya, Randi menyukai semua hal yg ada pada Dania. Randi benar-benar jatuh cinta.

Tapi, dia menyayangi Dania bukan krena alis, senyum, rambut cemplon atau hal lainnya. Sampai saat kata-kata yg membuat jantung Dania berdesir itu di ucapkannya, Randi tdak tau alasan mengapa ia begitu nyaman dan sangat menyayangi gadis yang tidak pernah dilihatnya berpoles makeup ini.

Rasa senang, getaran yg sulit dibahasakan, pembelaan demi pembelaan yg dilontarkan hatinya saat menyaksikan sisi menyebalkan gadis ini. Hanya itu yang di rasakan Randi. Ia tidak punya alasan jelas, seperti Dania yg tdak pernah punya alasan untuk menolaknya.

            Dan akirnya, Patrick Wilson 21 tahun itu sekarang adalah kekasih Dania, ini untuk pertama kalinya Dania menjalin hubungan lebih dari teman dengan seorang laki-laki, Dania tidak mengerti apakah Randi merasa nyaman dengan perlakuannya, Apakah Randi menyukai caranya mencintai. Seperti Dia yang bgitu nyaman dengan perlakuan sederhana Randi, dia yg bgitu menikmati cara Randi mencintainya. Randi selalu memberikan perhatian padanya tanpa ia minta, Randi selalu bisa mengertinya tanpa ia jelaskan. Dan Randi merasa begitu lengkap saat berada di samping wanitanya ini.

Bukankah cinta memang harusnya seperti ini, memberi tanpa meminta, mengerti tanpa menjelaskan dan merasa terlengkapi hanya dengan berdua. tidak dengan mencari kelengkapan lain diluar sana.

Bukankan cinta memang harus selalu jelas, tegas, pasti tanpa basa-basi? Bukankah cinta memang tidak ada keragu-raguan? cinta Karena cinta, bukan cinta karena sederet omong kosongnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar