Minggu, 02 Desember 2012

dan hujan melengkapinya


Dan hujann..

Hujan yang masih sama dengan hujan-hujan sebelumnya, hujan yang masih dari langit yang sama dan bisa jadi hujan yang msih dengan elemen air yang sama. Tapi entah kenapa itu terasa lain buatku. Hujan yg ini terasa begitu  perih dihatiku. Hujan yang ini seakan ikut menyempurnakan setiap celah gundah dihatiku. Celah yang kau tinggal begitu saja tanpa ingin tau bgaimana aku stelah kau pergi.

Seperti hujan yg selalu bisa membuat embun memeluk daun, sperti itulah inginku terhadapmu. Aku selalu berharap sperti embun yg tidak butuh warna untuk membuat daun jatuh cinta. Embun yang bgitu sederhana mampu melekat sempurna dipelukan sang daun.
Namun aku sadar, itu hanyalah sebuah perumpamaan yg berakhir dongeng. Aku bukanlah embun dan kamu juga tdak akan pernah jadi daun seperti yg kuharap.

Terkadang aku ingin berlari dan menari bersama rintikan hujan itu, seolah-olah menikmatinya padahal aku hanya ingin bersembunyi dibalik rintikannya. Bersembunyi dari kerapuhan bersamaa air mata yg kubawa.

Aku benci dengan diriku yg sperti ini, aku benci telah mencintaimu begitu dalam. Aku benci berani berharap banyak darimu. Darimu yg sama sekali tdak memberiku apa-apa selain sebuah rasa bernama “perih”.

Dan bodohnya aku tetap bertahan dengan rasa itu, tertahan oleh rasa lain yang disebut “cinta”.

Bodohnya lagi tau bahwa kau sedang menyukai seseorang dan itu bukan aku tdak cukup kuat untuk menjadi alasan untuk beranjak darimu. Aku yg hanya jedaa dalam nafasmu tidak berarti apa-apa dibanding dia yg merupakan alasanmu bernafas.

Dan hujann…
Entah kenapa setiap dia hadir seakan melengkapi perihnya hati inii. Dia seakan mngerti bgaimana sakitnya sebuah cinta yg tdak terbalas. Dan itu seakan membuat ku merasakan sesakk yg bgitu mnyiksaa. Perasaan yg berkecamuk menuntut pertanggung jawaban dari hatiku yg terlalu lancang mencintaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar