Dan hujann..
Hujan yang masih sama dengan
hujan-hujan sebelumnya, hujan yang masih dari langit yang sama dan bisa jadi
hujan yang msih dengan elemen air yang sama. Tapi entah kenapa itu terasa lain
buatku. Hujan yg ini terasa begitu perih
dihatiku. Hujan yang ini seakan ikut menyempurnakan setiap celah gundah
dihatiku. Celah yang kau tinggal begitu saja tanpa ingin tau bgaimana aku
stelah kau pergi.
Seperti hujan yg selalu bisa
membuat embun memeluk daun, sperti itulah inginku terhadapmu. Aku selalu berharap
sperti embun yg tidak butuh warna untuk membuat daun jatuh cinta. Embun yang
bgitu sederhana mampu melekat sempurna dipelukan sang daun.
Namun aku sadar, itu hanyalah
sebuah perumpamaan yg berakhir dongeng. Aku bukanlah embun dan kamu juga tdak
akan pernah jadi daun seperti yg kuharap.
Terkadang aku ingin berlari dan
menari bersama rintikan hujan itu, seolah-olah menikmatinya padahal aku hanya
ingin bersembunyi dibalik rintikannya. Bersembunyi dari kerapuhan bersamaa air
mata yg kubawa.
Aku benci dengan diriku yg sperti
ini, aku benci telah mencintaimu begitu dalam. Aku benci berani berharap banyak
darimu. Darimu yg sama sekali tdak memberiku apa-apa selain sebuah rasa bernama
“perih”.
Dan bodohnya aku tetap bertahan
dengan rasa itu, tertahan oleh rasa lain yang disebut “cinta”.
Bodohnya lagi tau bahwa kau
sedang menyukai seseorang dan itu bukan aku tdak cukup kuat untuk menjadi
alasan untuk beranjak darimu. Aku yg hanya jedaa dalam nafasmu tidak berarti
apa-apa dibanding dia yg merupakan alasanmu bernafas.
Dan hujann…
Entah kenapa setiap dia hadir
seakan melengkapi perihnya hati inii. Dia seakan mngerti bgaimana sakitnya
sebuah cinta yg tdak terbalas. Dan itu seakan membuat ku merasakan sesakk yg
bgitu mnyiksaa. Perasaan yg berkecamuk menuntut pertanggung jawaban dari hatiku
yg terlalu lancang mencintaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar