Kamu masa lalu yang tdak pernah kulalui,
sebuah kisah yg tidak pernah kulewati tapi entah mengapa menyisahkan jejak yg
bgitu sulit untuk kuhapus. Selembar rasa yg kugores untukmu, ternyata berakhir menjadi setumpuk carikan perih
yg begitu menyiksaku. Jejak yg kau tinggal layaknya bekas luka yg sewaktu-waktu
bisa berpendar saat aku kembali mengingat semua kisah tentangmu, kisah yg
begitu ingin kulupakn meski kutau aku tidak sanggup untuk itu. luka yg kau
titip begitu menguasaiku, luka yg aku berani bertaruh jauh lebih perih dari sayatan
sebilah pisau tajam yg tanpa sengaja terpercik air garam, perihh sekali.
Beberapa waktu bersamamu, sangat naïf
jika aku mengatakn semua tentangmu sudah berlalu, mungkin itu hanya sandiwara lisanku,
akan tetapi, andai saja kamu tau, semua kenangan tentangmu masih tertata rapi
dalam keteduhan nuraniku. Mungkin saja, kau menyaksikan ketegaran pada setiap
tawaku, tapi. Apa kamu tau? Hatiku begitu rapuh untuk semua perih tak berujung
ini.
Aku paham, satu-satunya cara untuk mengakhiri
semua ini hanya dengan beranjak dari hatimu, dan celakanya hingga sekarang aku
tidak tau bgaimana caranya beranjak dari labirin pesonamu, aku tidak tau, dan
sebenarnya aku memang tidak ingin tau akan hal itu, meski tetap disini sama
halnya dengan menyiksa batinku sendiri.
Tapi, aku sadar. Tidak seharusnya aku
tetap bertahan menikmati smua perih ini. Aku sadar ego atas rasa yg selama inii
kujaga dengan rapi hrus mengalah dengan kenyataan, kenyataan bahwa smua harapan
itu hanya sepercik harapan semu yg sukses kuciptakan sendiri.
Aku sadar, bgaimana mungkin aku beraharap
berada disudut hatimu, jika mengetuk pintunya saja aku tak mampu. Aku
mencintaimu, tapi tdak berarti smpai menyakiti diri sendiri.
Aku pergi, pergi untuk pertama dan
terakhir kalinya. Pergi dalam keheningan, beranjak dalam kegelapan. Hingga aku
tdak tau lagi bgaimana caranya kembalii. Hingga aku tidak lagi mampu mengingat
smua mimpi buruk bersama mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar