Kamu…
Kamu seakan tugas kuliah yang tidak
pernah habis untuk kutulis, entah kenapa semua tentangmu selalu membuatku mampu
mengolah kata yang dilisankan hati untuk kuceritakan dalam setiap kalimat.
Aku yang begitu menyukaimu seolah
tidak punya alasan untuk beranjak dari hatimu, hatimu yg nyatanya telah kau
sempurnakan dengan seseorang. Dia seseorang yg bukan aku. Bukan Aku yang selalu
bertahan untukmu, aku yang ternyata tidak lebih dari sekedar kabut malam,
sedangkan dia, dia adalah pelangi dipagi harimu, pelangi yg begitu indah untuk
mewarnai hidupmu. Dia yang merupakan alasan dari setiap senyummu, sedangkan aku
mungkin hanya jeda dari celah snyummu.
Dia…
Terkadang begitu perih ketika aku
harus dipaksa untuk bertatap wajah dengannya, setiap bertemunya aku seakan
melihat keterpurukanku diwajahnya, aku seolah melihat kekalahanku disenyumnya,
dan aku seolah melihat penderitaanku dimatanya.
Entah mengapa…
Senyumnya padaku selalu kuartikan
senyum pesakitan untukku
Tatapan matanya seakan besi panas
yang sukses menghujam tenggorokanku
Kenyataan akan kekalahanku untuk
hatimu membuatku merasa ingin mati saja saat itu.
Kau yang begitu dekat dengannya,
begitu manis padanya, dank au yg selalu mengalah untuknya seakan bola panas yg
menggelinding tepat dihatiku.
Dan aku…
Aku tidak lebih dari sekedar
pengganggumu, aku yg begitu susah untuk segaris senyummu, lalu aku yang selalu
rela mengalah untukmu. Aku yang hanya mampu menyukaimu saja tanpa bisa
mengungkapnya karena tau bahwa aku tidak seindah dia dimatam, aku yg tdak
seindah dia untuk menarik perhatianmu.
Mungkinn…..
Dia memang lebih baik dariku
Dia memang lebih lucu dariku
Dia memang lebih mampu membuatmu
tersenyum dibanding aku
Dia memang lebih memberimu semangat
dibanding aku
Dia memang jauh lebih berarti
dariku
Tapi…
Yang harus kamu tau, aku berani
bertaruh cintaku jauh lebih tulus dari cintanya.
Dan..
Maaf karena aku tidak bisa berhenti
mencintaimu
Maaf karena ego mencintaimu
membuatku tidak ingin mengerti akan kenyataan itu
Maaf karena aku sudah begitu rajin
untuk selalu mengusikmu
Dan kumohonn ketika kamu telah
menyadari itu, jangan pernah merasa bersalah..
Biarkan aku merasakan perihnya
sendiri
Biarkan aku yang menanggungnya
sendiri. Inii mauku
Dan biarkan aku mnyudahinya dengan
caraku sendiri walau itu susah. Tetaplah dengan dia, biarkan aku sendiri
menahan perih ini hingga aku tidak lagi bernafas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar