Senin, 03 Desember 2012

"Kamu tulisan yg tak pernah kubaca"


Kamu…
Kamu seakan tugas kuliah yang tidak pernah habis untuk kutulis, entah kenapa semua tentangmu selalu membuatku mampu mengolah kata yang dilisankan hati untuk kuceritakan dalam setiap kalimat.

Aku yang begitu menyukaimu seolah tidak punya alasan untuk beranjak dari hatimu, hatimu yg nyatanya telah kau sempurnakan dengan seseorang. Dia seseorang yg bukan aku. Bukan Aku yang selalu bertahan untukmu, aku yang ternyata tidak lebih dari sekedar kabut malam, sedangkan dia, dia adalah pelangi dipagi harimu, pelangi yg begitu indah untuk mewarnai hidupmu. Dia yang merupakan alasan dari setiap senyummu, sedangkan aku mungkin hanya jeda dari celah snyummu.

Dia…
Terkadang begitu perih ketika aku harus dipaksa untuk bertatap wajah dengannya, setiap bertemunya aku seakan melihat keterpurukanku diwajahnya, aku seolah melihat kekalahanku disenyumnya, dan aku seolah melihat penderitaanku dimatanya.

Entah mengapa…

Senyumnya padaku selalu kuartikan senyum pesakitan untukku
Tatapan matanya seakan besi panas yang sukses menghujam tenggorokanku
Kenyataan akan kekalahanku untuk hatimu membuatku merasa ingin mati saja saat itu.
Kau yang begitu dekat dengannya, begitu manis padanya, dank au yg selalu mengalah untuknya seakan bola panas yg menggelinding tepat dihatiku.

Dan aku…
Aku tidak lebih dari sekedar pengganggumu, aku yg begitu susah untuk segaris senyummu, lalu aku yang selalu rela mengalah untukmu. Aku yang hanya mampu menyukaimu saja tanpa bisa mengungkapnya karena tau bahwa aku tidak seindah dia dimatam, aku yg tdak seindah dia untuk menarik perhatianmu.

Mungkinn…..
Dia memang lebih baik dariku
Dia memang lebih lucu dariku
Dia memang lebih mampu membuatmu tersenyum dibanding aku
Dia memang lebih memberimu semangat dibanding aku
Dia memang jauh lebih berarti dariku

Tapi…
Yang harus kamu tau, aku berani bertaruh cintaku jauh lebih tulus dari cintanya.
Dan..
Maaf karena aku tidak bisa berhenti mencintaimu
Maaf karena ego mencintaimu membuatku tidak ingin mengerti akan kenyataan itu
Maaf karena aku sudah begitu rajin untuk selalu mengusikmu

Dan kumohonn ketika kamu telah menyadari itu, jangan pernah merasa bersalah..

Biarkan aku merasakan perihnya sendiri
Biarkan aku yang menanggungnya sendiri. Inii mauku
Dan biarkan aku mnyudahinya dengan caraku sendiri walau itu susah. Tetaplah dengan dia, biarkan aku sendiri menahan perih ini hingga aku tidak lagi bernafas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar