Karena Titipan Tuhan
Tepatnya kamis malam jam 12 tanggal 27 desember 1992,,adalah detik pertamaa saya merasakan udara dunia yang diciptakan Tuhan yang Maha Esa. Saya lahir dan dibesarkann disebuah kota kecil bernama Pinrang di Sulawesi selatan. Dari kecil saya dididik dan dibesarkan dalam keluarga yang sangat harmonis.sangatt .
Dibesarkan dilingkungan keluarga yang bisa dikatakn berkecukupan saya tumbuh mnjadi anak perempuan yang pasif. Jangankan untuk memasak, bahkan saya tidak tau cara menyapu dan mengepel lantai yang benar. Semua sudah ada yang mengerjakan. Lahir sbagai anak perempuan dengan 3 orang kakak laki-laki tidak dipungkiri menbuatku selalu dapat perhatian yang lebih dari yang lain.
Kakak pertamaku adalah seorang dokter yang kini ada di Australia melanjutkan pendidikannya, yang kedua adalah seorang anggota polisi dikotaku, bgitupun dengan yang ketiga dia adalah seorang pegawai negeri sipil. Meski yang pertama dan kedua hanyalah saudara angkat keakraban dan kebersamaan kami seakan menghapus semua kenyataan ituu.
Memiliki 3 orang kakak laki-laki yg bisa dibilang Mapan mnbuatkuu sangat mudah menjalani hidup.aku memiliki semua mainan dan benda yang belum mampu teman sebayaku milikii waktuu itu. Dan saya memiliki seorang ayah yang sangat menyayangiku, semua yang aku mau bisa saya dapatkan dengan mudah. Dengan keadaan seperti inii, aku tumbuh mnjadi ank yg angkuh, sombong, seenaknya, aku hanya mau berbicara dan kenal dengan orang yg kuanggap sepadan denganku, aku tdak pernah mngucapkan kata maaf pada setiap orang yg merasa aku sakiti dan bencii mendengar kata TIDAK dalam hal apapun.
Dan Ibu, wanita hebatt inii selalu mnjagaku, tidak pernah nbuatku susah dlam hal apapun, entah karena yang sebelumnya adalah laki-laki ayah lupa bgaimana menperlakukan anak perempuan. Ayah mengajariku ilmu bela diri, mengajakku bangun jam 2 subuh hanya untuk menyaksikan club sepakbola kami bertanding. Mereka bilang aku mirip Ayah scara fisik dan sifat smuanya mirip ayahku.
Dari kecil hingga beranjak remaja aku hidup sebaik itu, dengan semua yang aku punya, hingga pada akhirnya, tepatnya 27 Deseber 2010 dihari jadiku yang ke-17 aku mndapat sebuah kenyataan yang menbuatku berubah total, kenyataan itu seakan mnjadi sebuah peluru pmbunuhan karakter. Kakak pertamaku Dr.Najib Jalaluddin. Iah dia yang mengubah semuanya. Malam itu aku masih ingat dia memberiku sebuah Map merah bertuliskan namaku dipojok kiri bawahnya.
Map yang menjelaskan bahwa aku, aku yang selama ini hanya bermasa bodo dengan masalah yang dialami orang sekelilingku ternyata adalah seorang penderita disleksia. Suasana seketika hening ketika Dia menjelaskan tentang titipan Tuhan padaku itu. Disleksia adalah kehilangan kemampuan membaca pada seseorang dikarenakan akibat kerusakan pada otak. Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar yang lain seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa.
Sesaat setelah mendengar penjelasan itu, mataku menatap kosong, pikiranku menerawang jauh, seketika aku mencoba menyelaraskan penjelasan kakakku mengenai gejala dan tanda-tanda titipn Tuhan ini dengan beberapa kejadian aneh yang sering aku alamii selama ini. Jelas terasa sebuah sesak memuncak didadaku. Kupandangi semua yg ada dsekitarku, sepasang laki-laki dan wanita paruhbaya menitihkan air mata pas didepanku, mereka adalah Ayah dan Ibuku. Kedua kakakku yang lain hanya bisa menundukkan pandngann entah apa yang sedang mreka pkirkan, dan aku entah kenapa tak setetes pun air mata membasahai pipiku, aku seolah mnjadi gadis 17 tahun pling tegar saat itu.
Semenjak itu nuraniku selalu berusaha mnjelaskn padaku bahwa dunia inii tdak akn indah tanpa senyuman dan kecerianku. Aku tidak mungkin kalah dengan titipan bernama Disleksia inii. . Aku mencoba hidup sebgaimana gadis seusiaku. Tetap menuntut ilmu dan berkarya sesukaku. Kecuali suatu hal. Aku harus rela berhenti dan menutup lembar ke67 novel yang kurang lebih 4 bulan ini mengolah imajinasiku. Namun Nuraniku berhasil meyakinkanku bahwa disleksia tdak akan sesukses bom atom yang mampu meluluhlantahkan Hirosima. Buatku inii adalah kado terindah dari Tuhan untukku. Aku yakinn.
Tidak ada yang menyadari kekuranganku karena disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti uraian, panjang lebar.
Karena titipan Tuhan inilah aku seakan lahir kembali, berawal dari kelas 2 SMA aku memulai hidup baru sebagai manusia yang baru. Kuawali dengan menjadi ketua umum sebuah organisasi terkemuka disekolahku, KIR namanya, sebuah organisasi yg bergerak dibidang Karya tulis ilmiah yang mengharuskanku banyak menbaca dan menulis, sebuah aktivitas yg sangat bertolak belakang dengan keterbatasanku. Tapi lagi-lagi aku mampu mngatasinya, aku dan nuraniku mnbuktikn bahwa aku bukanlah seorang pecundang yang mudah mengalah dan menghindar dari hal yg mnbuatku berbeda.
Terkadang hati kecilku berteriak, aku adalah seorang penyandang cacat yang perlahan-lahan akn sangat terlihat berbeda dengan yang lain. Namun nuraniku kembali menepuk pundakku dan menyadarkanku bahwa sekarang pun aku sudah berbeda, aku lebihh kuat darii orang sehat yang ada dsekitarku.
Karena hal ini jugalah cita-citaku mnjadi seorang jurnalistik tertunda, aku mnyebutnya tertunda, karena suatu saat nantii aku akn mlanjutkannya meski ituu bukan sekarang. Aku mencoba melupakan ksempatanku mnjadi Mahasiswa disalah satu perguruan tinggi terkemuka di Semarang, dengan alasan yang tidak jauh dengan keadaanku ini meski surat kelulusan sudah ditangan. Kembali lagi terbersit dihatiku bahwa sukses atau tidaknya kita tdak ditentukan dmana kita kuliah tpi bgaimaana kita kulia.
Akhirnya, seperti yg kalian tau aku adalah seorang Mahasiswa farmasi disalah satu perguruan tinggi swasta terkemuka diMakassar. Semester pertama seakan aku berada dikolong neraka yang bgitu mnyiksa, bgitupun dengan smeter 2, namun itu berubah saat aku mulai memasuki smester 3, aku mulai mnemukan arti dari prjuangan dan kedisiplinan ditmpat inii.
Ini takdirku, sknario hidup yang telah Tuhan rencanakan untukku. Aku mulai menikmatinya dengan mreka disekitarku. Dan tentu sja berbagai upaya penyembuhan akan titipan Tuhan inii. Dan akupun mulai mngenal metode chekup terapi dan akrab dengan tempat bernama rumah sakit. Membantu disleksia dengan homeopati, terapi visi, syntonic terapi cahaya dan stimulasi mikro, itulh yang sering aku lakukan saat inii.
Dan inilah aku sekarang, aku yang sangat berbeda dengan 2 tahun yg lalu. Namun satu yg tdak menbedakan dengan aku yg dlu. Sepakbola,iahh hobby yg diajarkan oleh ayahku, hanya ini sisa darii aku yg dlu. Hobby yg tdak akan pernah aku tinggalkan. Karena dihobby inii aku mnpelajari tentang filosofi hidup.
Seperti yang kalian sering dengarkan, bahwa bumi ini bundar apapun bisa terjadi,sesuatu yg tdak mungkin biisa terjadi, sepertihalnya sepak bola, bola itu bundar jdii apapun bisa terjadi, sebuah prtandingan yg sepertinya akn berakhir dengan kekalahan, bisa mnjadi sbuah kemenangan besar. Layaknya yg sedang aku harapakn, aku tidak akan berhentii brjuang sbelum Allah meniup pluit tanda berakhirnya hidup untukku.
Dan aku ingin seperti pesepakbola, bisa brpkir dalam kondisi tertekan, bisa menangkap infomasi yg diperintahkan dengan cepat hanya dengan membaca gerakan tangan pelatihya, seperti bek yang sekuat tenaga mempertahankn hidup, seperti striker yg tdak pernah mnyerah mewujudkan cita-citanya , dan seperti penjaga gawang yang selalu mnjaga hargadirinya dari serangan lawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar