Teruntuk kau yang tengah
jatuh bangun untuk melupakanku…
Apa menurutmu ini tidak
terlalu menyakitkan?? Apa kau tidak menderita dengan segala upaya mu itu?
mungkin kau memang tidak selemah aku untuk dibuat menderita dan merasa
tersakiti dengan keadaan seperti ini, tapi apakah kau tidak pernah berpikir
untuk menyudahinya saja? Menyudahi untuk mencoba melupakanku, tidakkah kau
akhirnya berpikir bahwa aku yang sudah begitu banyak menggores kenangan dalam
hidupmu terlalu sulit untuk dilupakan?
Kau tahu, kapan aku merasa
sangat membenci diriku sendiri? Iyya, saat aku dalam kesendirian dan tiba-tiba
semua hal tentang “kita” datang melewati lorong waktu mengunjungiku, memaksaku
menyesal pernah melewatkanmu. Kau pun sering merasakannya, bukan? Menyebalkan?
Tentu.
Kau tahu? Kau telah
membuatku merasa malu. Aku selalu memamerkan betapa pandai aku dalam
berpura-pura tidak mempedulikanmu. Ah, mana kutahu kalau kau ternyata jauh
lebih mahir dariku. Tidakkah kau berpikir kau seharusnya meminta maaf padaku
untuk itu?
Ah, bicara apa aku ini,
bagaimana mungkin aku setidak tahu malu ini meminta seseorang minta maaf atas
perlakuan yang aku pun melakukannya. Haish, Apa kau berpikir aku memang tidak tahu
malu? Karena Aku pun sebenarnya berpikir seperti itu.
Aku memintamu untuk
berhenti melupakanku disaat aku sedang susah payah melupakanmu. Maafkan karena
aku menjadi sekurang ajar itu. semoga kau tidak menyesal PERNAH menyukai orang
se-egois aku, karena aku pun tidak pernah menyesal MASIH mencintai orang yang
bahkan tidak bisa meredam gengsi untuk mengatakan perasaan terhadap orang yg
dicintainya, sepertimu.
Apa kau masih ingat???
Betapa canggungnya kau dulu
saat untuk pertama kalinya kita jalan bersama diantara temanmu yang juga adalah
temanku? Aku masih ingat saat tanganmu gemetar ketika ingin memberi sesuatu
pada temanmu yang tepat disampingku. Kau bahkan tidak pernah memalingkan
wajahmu padaku, kenapa? Kau takut bertatap mata denganku? Kau takut bila aku
melihat seberkas cinta pada kilatan matamu?
Apa kau juga ingat?
dikesempatan yang sama, kau memperhatikanku dari jauh saat aku sedang manaruh
minat pada sebuah benda lucu didepanku? Bingo, betul, saat itu aku sadar bahwa
kau sedang memperhatikanku. Lalu kenapa dulu kau tidak mengucap sepatah katapun
padaku? Apa kau takut suaramu akan gemetar? Jadi kau juga tahu suara kita akan
menjadi gemetar saat kita sedang berbicara dengan orang yang diam-diam kita
cintai? Jika iyya, alasanmu menyakitiku.
Lalu, apa kau juga masih
ingat betapa seringnya kau menghubungiku duluan dengan segala macam bentuk
percakapan basa-basimu? Kau bahkan menggunakan tehnik kamuflase demi menarik
perhatianku. Kenapa kau melakukan itu? apakah dengan menjalin komunikasi bahkan
hanya dengan lewat social media akan membuatmu merasa dekat denganku? Apakah
dengan memastikan bahwa aku ada membuatmu merasa tenang? Jika iyya, aku pun melakukan
nya dengan alasan yang sama.
Dan apakah kau masih ingat
semua taktikmu hanya untuk bertemu denganku? Meminta bantuan untuk hal yang
bahkan orang kau kenal lebih dekat dariku pun sebenarnya bisa melakukannya,
bertemu denganku hanya untuk sesuatu yang sebenarnya bisa kau dapatkan dari
orang selain aku. Kenapa? Kau tidak cukup berani memintaku secara
terang-terangan untuk bertemu dengan alasan yang lebih jujur? Jika iyya, aku
mengerti.
Oy, apa kau juga ingat
segala upayamu untuk membuatku merasa cemburu? Menceritakan kekaguman mu pada
orang lain yang aku tahu jelas itu hanya pura-pura. Iyya, saat itu, karena aku
merasa kau terlalu sering menggunakan nya untuk membuatku cemburu, aku pun
mengujimu. Aku mengatakan padamu tentang sebuah kalimat yang ku akui pernah
kubaca dari sebuah buku, dan saat itu kau mengatakan kau sudah mengatahuinya
dari Dia. Lagi-lagi bingo, aku berbohong dengan mengaku membacanya dari sebuah
buku, sebenarnya itu hanya akal-akalan ku saja, aku sendiri yang menciptakan
kalimat itu, kamu tertipu. Kenapa kau melakukan itu? agar aku akhirnya
menunjukkan sikap cemburu yang menandakan akupun menyukaimu? Apakah segala respon
baikku atas basa-basimu dan aku yang tidak pernah keberatan meng-iya-kan setiap
permintaanmu tidak cukup membuatmu yakin bahwa akupun sangat menyukaimu? Jika
iyya, aku kecewa.
Disaat aku sudah tidak
menaruh minat pada setiap upaya cari perhatianmu, Kau pernah bilang padaku
bahwa kau menyukai sahabatku, kau lagi-lagi memuji nya, memuji orang lain
didepanku, saat itu aku dengan santai berpura-pura menawarkan akan
mendekatkanmu dengan nya, tapi seperti dugaanku kau menolak, kau ingin berusaha
sendiri katamu, tapi kenapa kau tidak melakukakannya? Kau bahkan tidak pernah
meluangkan waktu untuk sekedar berbasa-basi dengannya, kenapa? Kau hanya
berpura-pura kan? tidak apa-apa aku pun sering berpura-pura bercerita menyukai
orang lain padamu.
Aku tidak tahu mengapa kau
begitu sulit mengakui perasaanmu padaku, yang kutahu akupun juga sulit mengakui
bahwa aku menyukaimu.
Kau tahu? Sebaiknya kita
jangan lagi berpura-pura seperti ini, apa kau tidak lelah? Aku lelah. Tapi, aku
tidak akan memintamu memulai semua hubungan aneh ini dari awal, aku hanya
berharap kita bisa melanjutkannya. Aku menikmatinya, aku menikmati caramu menyuiku,
meski itu menyakitkan, menurutku itu lebih baik daripada kau memutuskan untuk
melupakanku.
Menurutku, bagian terbaik
dari semua keadaan ini adalah tahu bahwa kau pernah menyukaiku, terlepas dari
itu masih atau sudah tidak lagi, itu pilihanmu. Namun, jika kau sudah
menentukan pilihan, dan itu adalah tetap dengan melupakanku, semoga suatu saat
nanti kau tidak akan menghabiskan beberapa saat dalam hidupmu untuk menyesal
karena pernah melewatkanku. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar