“eh
ngelamun jorok lu yah?” sergap Citra
seraya menepuk pundak Sahabat nya yg tengah melamun sendiri di kantin kampus,
kemudian duduk tepat di depan nya.
Yang di sergap hanya menoleh
sebentar, melempar senyum tipis, sebuah respon yg sebenarnya kurang tepat jika
di definisikan sebagai senyum.
Gadis berambut hitam legam
yg siang itu tampak manis dengan kaos oblong putih dan celana jeans hitam,
terlihat menikmati rekam-rekam memori yg sedang menari-nari di lamunan nya.
“Put, ada gue loh disini. Lamunin apa sih? UTS tadi? Aduh
apa banget lah itu, lupain aja kali, gue mah masa bodoh” seringai nya lagi.
Citra memanyunkan bibir
tipis nya, yang di tanya sama sekali tidak merespon apa-apa.
“Put…….. ah gue tebalikin juga ini meja” canda nya dengan
nada suara agak tinggi dan wajah menekuk.
Gadis berkacamata yg sedari
tadi di ganggu nya itu, menatap nya sebentar, menarik nafas panjang kemudian
mengusap wajah dengan kedua telapak tangan nya.
“tadi gue liat Alan, nganterin cewek. Kayak nya sih pacar
nya, mesra gitu”
Gadis bernama Putri itu
akhirnya buka suara, gadis berwajah ke arab-arab-an ini melengos, lalu
menyeruput segelas Jus Alpukat yg sedari tadi menemani lamunan nya.
“lu kenal cewek itu siapa?” Tanya Citra mulai menyidik
“junior kita sih, gue ikut di kelas Dia ngulang
Farmakologi Molekuler, klo ga salah namanya Malaa atau Nalaa, apalah itu”
“Pas lo liat, Alan juga ngeliat lo?” selidik Citra
penasaran
“gak sih, kalaupun liat mungkin juga Dia udah lupa sama
gue”
“yah gak semudah yg lo pikir juga sih, kalian pisah tanpa
kejelasan kn sebenarnya, kan belum putus, ga mungkin langsung lupa”
“putus itu Cuma istilah perpisahan yg di ungkapkan secara
lisan Cit, ada juga putus yg langsung dengan sikap, dan hubungan gue sama Alan,
mungkin putus dengan cara itu”
“dan setelah liat Dia nganterin cewek baru nya ke kmpus, lo
baik-baik aja?”
“gue gak pernah baik-baik aja setelah Dia pergi, saat gue
bilang gue baik-baik saja, di saat itulah sebenarnya gue tidak sedang baik-baik
saja. Gue bohong klo bilang udah gak pernah kangen sama Dia”
“lo masih cinta sama Dia, dan mungkin lo masih berharap
Dia kembali, iyyaa?” pertanyaan Citra mulai serius
“kangen bukan berarti gue mau Dia kembali lagi dong,
sedikit banyak nya Dia pernah jadi bagian dari hidup gue, kita pernah saling
sayang, walaupun sekarang mungkin udah gak lagi. Kita memang sudah tidak
bersama, tapi mungkin kita masih melakukan hal yang sama, berusaha saling
melupakan.”
Citra mengangkat kedua alis
nya, seraya menatap lekat-lekat wajah sendu sahabat nya, yg di tatap malah
mengalihkan pandangan kesetiap sudut kantin, Dia tidak sedang mencari
siapa-siapa, Dia hanya berusaha mencari kesibukan lain selain memikirkan hal yg
sebenarnya selama ini berusaha Dia lupakan.
Putri dan laki-laki bernama
Alan itu memang pernah merajut kisah bersama, berbagi cerita, berbagi tawa,
berbagi sedih. Alan adalah orang yg membuat nya paham apa itu cinta, Alan
adalah orang yg membuat nya merasa begitu sangat di hargai sebagai seorang
wanita, Alan membuat nya tahu betapa indah nya di cintai oleh orang yang kita
cintai juga. Tapi, Alan jugalah laki-laki yg membuat nya mengerti dengan apa yg
di sebut sakit hati.
Mereka berpisah tanpa sebuah
penjelasan, saling menjauh, saling tidak memberi kabar, atau mungkin lebih
tepatnya, saling menunggu untuk diberi kabar. Menurut nya waktu bisa menjawab
semua nya, tapi Dia lupa, waktu juga bisa mengubah semuanya. Dan waktu akhir
nya membuat dua orang yg “mungkin” masih saling menunggu ini memutuskan untuk
berusaha menemukan apa yg pernah mereka berdua rasakan kepada orang yang berbeda.
Dan Putri merasakan
perbedaan nya, menurut nya tidak ada yg lebih baik dari Alan dalam hal
memperlakukan perempuan. Dengan yg lain Dia bisa menyebut itu cinta tapi entah
kenapa berbeda dengan Alan, dengan Alan semuanya tidak hanya sekedar cinta,tapi
hal lain bernama rasa nyaman itu yg Dia belum dapat dari orang setelah Alan.
“ya udah, lo hubungin aja duluan Put, sekali-kali kek lo
menang dari gengsi lo yg lebih tinggi dari gedung teringgi di Dubai itu”
sambung Citra lagi memberi saran.
“gue gak ada rencana untuk itu, dan gue memang tidak mau
bertarung dengan gengsi gue, karena gengsi adalah salah satu hal yg tidak bisa
gue kalahin dalam diri gue, jadi percuma”
“ah gengsi betapa jahat Dia membuat kangen hanya bisa
menari-nari di udara” gumam Citra seraya menggeleng-gelengkan kepala.
“gue kan udah bilang, gue kangen bukan berarti gue mau
balikan. Ibarat ranting nih yah, klo udah putus biar kata lo sambungin pake lem
mrek apa juga gak bakal kyak semula kan?, buat gue orang yg udah putus terus
balikan lagi, mau sayang nya kayak apa juga pasti rasa nya udah beda”
“tapi kan Dia yg udah berantakin hati lo, jadi mungkin Dia
juga yg bisa menatanya kembali seperti semula, iyakan?”
“gue gak berminat punya tata hati yg sama lagi, mungkin
dengan tetap mencari orang lain setelah Dia bisa memberi nuansa baru di hati
gue, mungkin orang baru stelah Dia itu bisa menata hati gue dengan penataan yg
lebih rapi dan lebih berwarna”
Putri menghela nafas panjang
lagi, gadis berkulit hitam manis itu kemudian tersenyum manis sekali ke arah Citra
seraya menaik turunkan alis tebal nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar