Mencintaimu adalah hal yang tidak pernah kurencanakan sebelumnya. Seperti
halnya pertemuan kita. Semua terjadi begitu saja, seperti juga munculnya
perasaan itu. entah sejak kapan dan entah karena apa.
Tanpa alasan? Iyya. Mungkin karena itu juga hingga aku tdak punya
alasan untuk melupakanmu.
Atau mungkin aku yg menolak untuk melupakanmu. Bahkan
ketika kini kamu enyah meski kita masih berada dikota yg sama, aku masih
berharap kita bisa seperti dulu lagi. Menemani harap itu, aku masih setia
menanti bahagianya berinteraksi denganmu, manis nya senyum yg kusebut senyum
sejuta dollar milikmu itu.
Setiap detail kenangan yang pernah kita lalui masih terlukis indah
dikanfas hati dan kusimpan rapi disudut hatii yang hanya kamu pemegang
kuncinya.
Aku menyimpannya dengan rapi, serapi aku menyimpan perasaan ini tanpa
seorang pun tau. Tak seorang pun. Kecuali Dia yg menciptakan “rasa” ini.
Kamu. Seseorang yang entah kusebut apa. Bagaimana mungkin kamu yang
bahkan hampir tidak pernah kulihat lagii, bukan hanya didunia nyata, didunia yg
pernah jadi milik kita dengan bantuan berbagai aplikasi smartphone pun masih
selalu jadi “bunga” alam bawah sadarku. Masih jadi orang terakhir sebelum dan
orng pertama setelah lelapku.
Seandainya “cerita” kita tak seindah itu (menurutku) mungkin mudah saja untuk melupakn semuanya. Seperti
yg sekarang kurasakan pada dia. Dia yg dulu menjadi wacana spekulasiku padamu.
Bahkan mungkin tau kamu tdak sendiri lagi atau bahkan tau ternyata
kamu tak pernah punya perasaan seperti yang kusangkakan tdak akan berpengaruh
apa-apa dengan keadaan ini.
Sebuah keadaan yang bgitu susah dijelaskan, keadaan yang begitu susah
dinalar. Karena soal hati tentang perasaan bukan soal matematika yg bisa
diselesaikan dengan rumus dan dengan orang manapun. Ini lain, persoalan yg
hanya sipemilik perasaan itu yang mampu menyelesaikannya meski terkadang tdak tau
bgaimana caranya. Persis seperti yg sedang kurasakan saat ini, tentangmu.
Tentangmu yang sengaja kutolak untuk menyelesaikannya. Iyya, aku “menolak
lupa” karena kamu terlalu sulit untuk dilupakan.
hmmm....
BalasHapus